Untungnya Apa?

Enggia Valox
Chapter #9

Untungnya Masih Ada Harapan?

Seminggu berlalu. Bunga-bunga yang sempat memenuhi ruang tamu mulai layu. Karangan ucapan belasungkawa satu per satu telah diambil. Para tetangga tak lagi setiap hari datang membawakan makanan. Gang kecil itu kembali berjalan seperti biasanya.

Namun bagi keluarga Dwiit...Rumah itu belum pernah benar-benar hidup kembali. Kursi tempat Pak Dwiko biasa duduk masih dibiarkan pada posisinya. Cangkir kesayangannya masih tersimpan di rak dapur. Tak seorang pun tega memindahkannya.Seolah mereka masih berharap suatu sore nanti Pak Dwiko akan pulang, duduk di kursi itu, lalu bertanya dengan senyum khasnya.

"Hari ini... untungnya apa?"

---

Pagi itu terdengar ketukan di pintu. Tok... tok... tok... Bestri berlari membukanya.

"Om Danu..."

Beliau tersenyum

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Ia masuk sambil membawa sebuah map berwarna cokelat.

Keluarga Dwiit kedatangan tamu pagi ini. Ia adalah adik ayah yang baru bisa datang karena beliau bekerja di luar negeri. Namanya Om Danu. Beliau tampak berusaha menahan tangisnya karena ayah hanya punya satu saudara yaitu beliau. Ayah juga yang membiayai sekolah om Danu meskipun saat itu sudah menikah dengan ibu.

Om Danu duduk di ruang tamu. Matanya sesekali menatap foto sang kakak yang masih berdiri di atas lemari. Ia mengembuskan napas panjang sebelum menyerahkan sebuah map cokelat kepada Bu Inggrit.

"Ini berkas yang Mas Dwiko titipkan ke saya beberapa waktu lalu."

Ibu menerimanya dengan bingung.

"Sebenarnya ada beberapa hal belum selesai, namun saya merasa harus memberikan ini ke Mbak dan anak - anak. Perlahan Ibu membuka map itu. Beberapa lembar dokumen tersusun rapi di dalamnya.

Wina ikut mendekat. Lucky dan Bestri berdiri di belakang ibunya. Tatapan mereka dipenuhi rasa penasaran.

"Ini..."

Ibu mengangkat wajahnya.

"Surat penjualan sawah?"

Om Danu mengangguk pelan.

"Iya. Itu sawah warisan keluarga. Mas Dwiko sedang menjualnya sebelum beliau pensiun."

Ruangan mendadak sunyi.

Kata-kata Om Danu masih menggantung di ruang tengah.

“Tiga ratus juta.”

Tidak ada yang langsung menjawab.

Wina menatap Om Danu seolah sedang memastikan angka yang baru saja didengarnya bukan salah sebut.

“Tiga ratus juta, Om?”

“Iya.”

Lucky yang sejak tadi duduk bersandar langsung bangkit.

“Seratus juta per orang?”

“Lucky,” tegur Wina.

“Apa? Aku cuma menghitung.”

Bestri mengangkat alis.

“Belum tentu dibagi tiga.”

Lucky menoleh.

“Kenapa?”

“Karena Om Danu belum bilang begitu.”

Lucky terdiam. Lalu kembali duduk.

“Ya sudah. Tapi tetap saja... tiga ratus juta.”

Ia mengucapkannya pelan. Seperti sedang mencicipi angka tersebut. Tiga ratus juta. Angka yang selama ini hanya mereka lihat di iklan rumah, harga tanah, atau berita tentang orang kaya. Sekarang angka itu disebut-sebut sebagai milik keluarga mereka. Atau setidaknya, bagian dari peninggalan ayah.

Wina menarik napas.

“Jadi... uang itu memang sudah ada?”

“Sudah,” jawab Om Danu. “Hasil penjualan sawah. Ayah kalian memang sudah mengurusnya sebelum meninggal.”

Lucky langsung menyandarkan tubuhnya ke sofa. Senyumnya mulai muncul.

“Kalau begitu kita aman.”

Wina menatapnya.

“Aman dari apa?”

“Dari kemiskinan.”

Bestri terkekeh kecil.

“Memangnya kita miskin?”

Lucky menunjuk keadaan ruang tengah.

“Lihat saja rumah kita.”

“Rumah kita baik-baik saja.”

“TV-nya kadang mati sendiri.”

“Itu karena kamu sering colok terlalu banyak.”

“Motor juga sudah tua.”

“Masih bisa jalan.”

Lucky menghela napas.

“Pokoknya kita butuh uang.”

Wina menggeleng.

“Uang tiga ratus juta itu bukan berarti kita boleh langsung menghabiskannya.”

“Aku tahu.”

“Serius?”

“Serius.”

Lucky mengangguk mantap.

“Aku justru sudah punya rencana.”

Wina langsung waspada.

“Rencana apa?”

Lucky menghitung dengan jari.

“Pertama, beli kamera.”

Wina memejamkan mata.

“Sudah kuduga.”

“Kamera itu investasi.”

“Investasi?”

“Iya. Biar kontenku lebih bagus. Kalau viral lagi, kita dapat uang lebih banyak.”

Bestri menatap kakaknya.

“Kalau tidak viral?”

Lucky terdiam.

“Ya... berarti kameranya tetap ada.”

Wina hampir tertawa.

Namun ia menahannya.

“Kalau aku,” kata Wina, “uang itu sebaiknya disimpan dulu.”

Lucky langsung menyahut.

“Untuk apa?”

“Untuk masa depan.”

“Definisi masa depanmu apa?”

“Pekerjaan. Kebutuhan rumah. Pendidikan Bestri. Kebutuhan Ibu.”

Mendengar nama Ibu, suasana mereka sedikit berubah. Mereka menatap ibu yang tak bicara banyak. Berapapun warisan yang ditinggalkan ayah, itu tak bisa membuat ibu bereaksi lebih baik.

“Jangan sampai uang ini habis hanya karena kita merasa sedang punya banyak.”

Lihat selengkapnya