Tak ada lagi tawa di ruang tamu. Surat yang dibawa Om Danu masih terbuka di atas meja. Selembar kertas putih yang beberapa menit lalu mungkin tidak berarti apa-apa, kini terasa seperti benda paling berat di rumah itu. Wina membacanya sekali lagi. Matanya bergerak dari baris pertama ke baris berikutnya. Nama. Alamat. Nomor dokumen. Jumlah kewajiban. Tanggal. Ia berharap menemukan sesuatu yang salah. Mungkin satu angka yang berbeda. Mungkin satu huruf yang keliru. Mungkin nama orang lain yang kebetulan sama. Namun nama yang tertera di sana tetap sama.
Dwiko Cahyono.
Wina menelan ludah. Lucky menggeleng pelan.
"Ini pasti keliru."
"Ayah nggak mungkin punya utang."
Om Danu menghela napas.
"Om juga berharap begitu."
"Tapi orang yang datang tadi membawa semua berkasnya."
Lucky menatap pamannya.
"Siapa orangnya?"
"Om nggak kenal."
"Dia datang sendiri?"
"Iya."
"Terus?"
"Dia bilang ini harus disampaikan kepada keluarga."
Lucky berdiri.
"Harus disampaikan?"
Nada suaranya mulai meninggi.
"Kenapa baru sekarang?"
Om Danu tidak langsung menjawab.
"Mungkin karena sebelumnya mereka masih menunggu proses administrasi selesai."
"Atau mungkin..."
Ia menatap surat itu.
"...mereka baru tahu kalau Mas Dwiko sudah meninggal."
Kalimat itu membuat suasana kembali hening. Bu Inggrit mengambil surat tersebut dari tangan Wina. Matanya menyusuri setiap baris dengan saksama. Ia membaca tanggal. Membaca nomor dokumen. Membaca jumlah kewajiban. Kemudian kembali membaca nama yang tertera di bagian atas. Tiba-tiba dahinya berkerut.
"Tunggu..."
Ia membuka lembar berikutnya.
"Lho..."
"Ada apa, Bu?" tanya Wina.
Bu Inggrit menunjuk bagian bawah dokumen.
"Ini alamat rumah kita."
Semua spontan mendekat.
"Alamat rumah?" tanya Lucky.
Om Danu ikut melihat dokumen tersebut. Beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah. Seperti seseorang yang baru saja mengingat sesuatu yang selama ini terkubur jauh di dalam ingatan.
"Mas..."
Ia menatap Bu Inggrit.
"Belum pernah cerita?"
Bu Inggrit menggeleng.
"Cerita apa?"
Om Danu terdiam sesaat.
"Saya kira Mbak sudah tahu."
"Tahu apa, Om?" suara Wina mulai bergetar.
Om Danu menarik napas panjang.
"Rumah ini..."
Ia berhenti.
"...bukan rumah sewaan."
Ruangan mendadak sunyi. Bu Inggrit menggeleng pelan.
"Jangan bercanda, Om."
"Setiap tahun Bapak selalu bilang harus bayar sewa."
Om Danu kembali membuka berkas itu.
"Yang dibayar Mas Dwiko bukan uang sewa."
"Melainkan angsuran rumah."
Kalimat itu membuat Bu Inggrit terduduk lemas.
Ia memegang tepi meja.
"Jadi..."
Matanya perlahan berkeliling.
"Rumah ini..."
"...milik Bapak?"
Om Danu mengangguk.
"Mas membeli rumah ini beberapa tahun lalu."
"Beliau tidak pernah bilang kalau kalian belum tahu. Om juga baru sadar ternyata Mas menyimpan semuanya sendiri."
Bu Inggrit memandang lantai. Lalu tertawa kecil. Tawa yang terdengar aneh di tengah suasana berkabung.
"Bertahun-tahun..."
Ia mengusap wajahnya.
"Bertahun-tahun saya masih bilang kepada anak-anak..."
"...jangan boros. Jangan terlalu sering menyalakan lampu. Jangan pakai air terlalu banyak. Jangan beli barang yang tidak perlu."
Ia menatap Om Danu.
"Saya kira kami masih numpang di rumah orang."
Om Danu tersenyum tipis.
"Mas Dwiko memang begitu. Kalau ada sesuatu yang bisa disimpan sendiri, dia simpan."
Bu Inggrit menunduk.
"Kenapa dia tidak pernah bilang?"
Om Danu tidak menjawab.
Karena mungkin tidak ada satu pun jawaban yang benar. Tak ada yang berbicara. Semua memandang sekeliling rumah. Dinding yang selama ini mereka gantungi foto keluarga. Halaman tempat Lucky merekam video. Sudut dapur tempat Ibu memasak nasi uduk setiap dini hari. Kamar kecil tempat Bestri belajar. Meja belajar Wina. Kursi tempat Pak Dwiko biasa duduk pada sore hari. Tiba-tiba semua benda itu terasa berbeda. Selama bertahun-tahun mereka menganggap rumah itu hanya tempat berlindung.
Tempat pulang. Tempat bertengkar. Tempat makan bersama. Tempat merayakan ulang tahun. Tempat menangis diam-diam. Mereka tidak pernah tahu bahwa di balik semua itu ada seseorang yang diam-diam berjuang agar rumah tersebut benar-benar menjadi milik mereka.
Wina berjalan perlahan menuju dinding ruang tengah. Tangannya menyentuh permukaan tembok.
"Berarti..."
Ia menarik napas.
"Selama ini Ayah bayar rumah ini?"
Om Danu mengangguk.
"Iya."
"Setiap bulan?"
"Iya."
"Dan kami nggak tahu?"
Om Danu mengangguk lagi.
Wina tertawa kecil, tetapi air matanya justru jatuh.
"Ayah aneh."
Lucky ikut tersenyum.
"Banget."
Bestri memandang mereka.
"Kenapa Ayah merahasiakannya?"
Om Danu menjawab pelan.
"Karena Mas Dwiko mungkin merasa kalian tidak perlu tahu."
"Kenapa?"
"Karena dia ingin kalian merasa rumah ini adalah rumah kalian."
Wina terdiam.
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang ia duga. Ayah tidak ingin mereka merasa sedang tinggal di rumah yang dibayar dengan susah payah. Ayah hanya ingin mereka pulang. Sesederhana itu.
Wina menatap foto Pak Dwiko yang tersenyum dari atas lemari.
"Jadi..."
"...Ayah membeli rumah ini..."
Suaranya mulai bergetar.
"...supaya suatu hari nanti..."
Ia mengusap air matanya.
"...setelah kami kehilangan Ayah..."
"...kami tidak kehilangan rumah juga."
Tak seorang pun menjawab. Karena di ruang tamu itu... Semua tahu... Wina benar. Pak Dwiko mungkin sudah tidak ada. Namun bahkan setelah kepergiannya, ia masih meninggalkan cara untuk menjaga keluarganya. Dan justru itulah yang membuat dada mereka semakin sesak. Malam itu mereka tidak langsung tidur. Berkas-berkas yang dibawa Om Danu masih terbuka di atas meja.
Ada dokumen rumah. Ada surat tagihan. Ada beberapa lembar fotokopi yang bahkan tidak mereka mengerti isinya. Lucky membolak-balik halaman.
"Om..."
"Hm?"
"Utangnya ini ada hubungannya sama rumah?"
"Sepertinya biaya pelunasan dan balik nama."
Lucky menutup berkas.
"Ayah selalu menyembunyikan semuanya."
Wina menatap adiknya.