Rumah itu masih berdiri seperti biasa. Pintu yang sama. Meja makan yang sama. Kursi kosong milik Pak Dwiko juga masih berada di tempatnya. Hanya saja... Rumah itu tak lagi terdengar seperti rumah keluarga Dwiit. Tak ada teriakan Lucky. Tak ada suara Wina yang mengomel. Tak ada tawa Bestri yang selalu menjadi penutup keributan. Yang terdengar hanya suara pintu kamar yang sesekali terbuka, lalu kembali tertutup.
Pagi-pagi sekali Wina sudah keluar rumah. Ia membawa map berisi puluhan surat lamaran yang sudah disusunnya semalaman. Biasanya, sebelum berangkat, Bestri akan meminta map itu.
"Kak, aku cek dulu."
Ia akan memperhatikan satu per satu.
Mulai dari tanda baca, tanggal, nama perusahaan, hingga urutan dokumen.
"Kalau HRD lihat berkasnya rapi, kesan pertamanya juga bagus."
Begitu katanya.
Namun pagi itu... Tak ada suara itu. Wina hanya mengambil mapnya, mengenakan sepatu, lalu pergi.
Di depan pintu, tangannya sempat berhenti pada gagang pintu. Ia menoleh ke ruang makan. Dulu, pada jam seperti ini, biasanya ada suara sendok beradu dengan piring. Ada suara Lucky yang terlalu keras. Ada Bestri yang tertawa. Ada Ayah yang sesekali menyuruh mereka mengecilkan suara.
Sekarang... hanya ada udara pagi yang masuk dari jendela. Wina menarik napas.Kemudian pergi.
Baru ketika tiba di perusahaan ketiga, petugas resepsionis mengembalikan mapnya.
"Maaf, Mbak. Surat lamarannya tertukar."
Wina membeku. Nama perusahaan yang dituju berbeda dengan nama yang tertulis pada surat lamaran. Ia memejamkan mata. Kalau Bestri masih mau memeriksa...Kesalahan sekecil ini pasti tidak akan terjadi.
Wina menggenggam map itu lebih erat. Ia ingin menyalahkan dirinya sendiri. Namun yang terbayang justru wajah Bestri.
"Kalau HRD lihat berkasnya rapi..."
Wina menghela napas.
"Biasanya kamu yang bilang begitu."
Ia tersenyum tipis. Lalu berjalan keluar dari gedung itu.
---
Di sudut lain kota... Lucky duduk di depan sebuah toko kamera bekas. Ia membuka amplop cokelat. Isinya uang hasil menjual jam tangan, sepatu, dan beberapa barang kesayangannya. Ia menghitungnya sekali. Dua kali. Tiga kali. Masih kurang. Ia tersenyum pahit. Di balik kaca toko, kamera-kamera berjajar rapi. Ada satu kamera yang sejak beberapa hari lalu terus ia lihat. Harga kameranya tidak terlalu mahal. Namun uang yang ada di tangannya belum cukup. Biasanya Wina akan menghitung ulang sambil berkata,
"Jangan buru-buru ambil keputusan."
Atau Bestri akan bertanya,
"Kak, yakin nggak ada kamera lain yang lebih murah?"
Kini... Tak ada lagi yang memberi pendapat. Tak ada lagi yang membantah idenya. Ia sendirian. Begitu juga mimpinya. Lucky memasukkan kembali uang itu ke dalam amplop.Ia berdiri. Sebelum pergi, matanya sekali lagi tertuju pada kamera di balik kaca.
"Mungkin nanti."
Ia berbalik.
Sementara itu... Bestri terus berlari. Satu putaran. Dua putaran. Lima putaran. Sepuluh putaran. Keringat membasahi seragam latihannya. Napasnya semakin berat. Namun ia tak berhenti. Ia terus berlari. Seolah semakin jauh langkahnya... Semakin jauh pula beban di dadanya.
Sayangnya...Perasaan kehilangan tak bisa dikalahkan oleh garis finis. Sejauh apa pun ia berlari... Beban itu selalu berhasil menyusulnya. Pelatih sempat memanggilnya.
"Bestri, cukup!"
Bestri mengangkat tangan.
"Masih kuat, Pak."
"Kamu sudah pucat."
"Aku masih bisa."
Ia kembali berlari. Namun langkahnya mulai tidak teratur. Pandangan matanya berkunang-kunang. Suara peluit pelatih terdengar semakin jauh. Kemudian... semuanya gelap.
---
Bu Inggrit juga menjalani harinya seorang diri. Ia mengangkat termos. Mengantar pesanan. Menyapa pelanggan dengan senyum yang dipaksakan. Tak ada lagi Lucky yang membantu mengangkat barang. Tak ada lagi Wina yang mencatat pesanan. Tak ada lagi Bestri yang membawakan kantong plastik sambil tersenyum. Sesekali langkah Bu Inggrit terhenti. Lelah.
Namun ia kembali berjalan. Anak-anaknya sedang memikul beban mereka masing-masing. Maka ia tak ingin menambah beban itu dengan keluhannya. Ia mencoba menghitung uang hasil jualan pagi itu. Tidak banyak. Ia memasukkannya ke dalam dompet. Lalu kembali melayani pelanggan berikutnya.
Menjelang sore... Telepon Bu Inggrit berdering. Nomor sekolah Bestri. Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.
"Bu...Bestri pingsan saat latihan. Demamnya tinggi."
Kalimat itu membuat tangan Bu Inggrit gemetar.
"Sekarang di mana?"
"Di rumah sakit, Bu."
"Saya ke sana."
Bu Inggrit menutup lapak lebih cepat. Ia bersiap merapikan warung. Namun ketika membuka dompet... Uang hasil jualan hari itu tidak cukup.
Bu Inggrit terdiam.
Untuk sesaat pandangannya tertuju pada buku tabungan yang tersimpan di laci. Lima juta rupiah. Masih utuh. Belum tersentuh. Tangannya hampir meraih buku itu. Namun langkah seseorang lebih dulu mendekat.
Lucky.
Tanpa sepatah kata, ia menyodorkan sebuah amplop cokelat.
"Pakai ini dulu, Bu."
Bu Inggrit mengernyit.
"Uang apa ini?"
"Uangku."
"Tapi..."
"Udah, Bu."
"Bestri lebih penting."
Bu Inggrit membuka amplop itu. Isinya uang pecahan hasil penjualan barang.
Air matanya langsung jatuh.
"Lalu kameramu?"
Lucky tersenyum tipis.
"Mungkin...belum rezekinya."
Ia berbalik sebelum ibunya sempat melihat matanya yang mulai memerah. Bu Inggrit memanggilnya.
"Lucky..."
Lucky berhenti.
"Terima kasih, Nak."
Lucky mengangguk kecil. Namun ia tidak berbalik. Kalau ia berbalik sekarang... mungkin air matanya juga akan jatuh.
"Warung dan semuanya biar aku yang rapiin. Aku udah telpon kak Wina biar langsung ke sana," sahutnya dengan suara bergetar.
Malam harinya...Wina dan ibu pulang memapah Bestri. Lucky membantunya masuk lalu menyuruhnya istirahat. Wina hanya diam sejak ia di rumah sakit. Setelah ia mengganti pakaian dan mengambil minuman, ia mengintip ke pintu kamar Lucky yang terbuka. Ia melihat rak di kamar Lucky kosong. Jam tangan kesayangannya hilang. Sepatu yang selalu dipakainya juga tak ada.
"Apa yang dijual?" tanyanya pelan.
Lucky yang sedang duduk di lantai menjawab tanpa menoleh.
"Beberapa barang."
"Untuk kamera?"
Lucky mengangguk kecil.
"Terus uangnya?"
Lucky tersenyum hambar.
"Sudah kepakai."
Wina menatap adiknya.
"Untuk Bestri?"
Lucky mengangguk. Wina terdiam. Ia tidak langsung mengatakan apa-apa. Matanya beralih ke rak yang kosong. Dulu ia mungkin akan marah. Mungkin akan mengatakan Lucky terlalu gegabah.
Namun malam itu... ia justru melihat pengorbanan yang selama ini tidak ia pahami. Tak ada lagi pertanyaan. Tak ada lagi perdebatan. Hanya keheningan yang kali ini terasa berbeda. Lima juta rupiah... masih tersimpan rapi di dalam buku tabungan. Tak seorang pun menyentuhnya.
Namun malam itu... mereka diam-diam mulai menyadari... bahwa keluarga ini masih saling menjaga. Hanya saja... belum ada yang cukup berani untuk mengatakannya.
Bestri perlahan membuka matanya. Kepalanya masih terasa berat.
Pandangannya menyapu langit-langit kamar, lalu berhenti pada sosok Bu Inggrit yang duduk di samping tempat tidur.