"Kaos kaki sebelahku mana?"
Suara Wina menggema ke seluruh rumah.
Tak ada yang menjawab. Wina membuka laci. Mengangkat bantal sofa. Bahkan sampai melihat ke dalam kulkas.
"Kenapa aku lihat kulkas..." gumamnya sambil menggeleng sendiri.
Ia menutup pintu kulkas, lalu berdiri sambil memandangi rak-rak di depannya.
"Jangan-jangan aku benar-benar sudah stres."
Dari ruang tengah terdengar suara tawa kecil.
"Lucky!"
"Apa?"
"Kamu pakai kaos kakiku?"
Lucky yang sedang sibuk memegang ponsel langsung menoleh.
"Aku pakai sepatu empat puluh tiga, Kak. Kaos kaki Kakak muat?"
"Bisa aja dipaksa!"
Lucky tertawa. Wina mendengus.
"Jangan ketawa!"
"Aku dari tadi cari setengah mati."
Bestri muncul dari ambang pintu sambil menahan senyum.
"Kak..."
"Apa?"
"Kaos kakinya warna apa?"
Wina menatap adiknya.
"Hitam."
Bestri menunjuk kaki Wina.
"Kak."
Wina menunduk. Di kakinya sudah terpasang satu kaos kaki hitam. Ia terdiam. Lucky menutup mulutnya, berusaha keras menahan tawa. Bestri akhirnya tak tahan.
"Yang hilang sebelahnya kan?" tanya Bestri sambil menunjuk tangan Wina
Wina memejamkan mata. Lucky mengangkat kamera.
"Jangan ada yang ngomong. Jangan ada yang rekam juga!"
Lucky tertawa semakin keras.
"Katanya paling teliti."
Wina mengambil bantal sofa dan melemparkannya ke arah Lucky.
"Lucky!"
Lucky menghindar.
"Awas kamera!"
"Jangan bawa-bawa kamera!"
Tawa kembali memenuhi ruang tengah. Pagi itu rumah keluarga Dwiit terasa berbeda. Tidak ada lagi ketegangan seperti beberapa minggu sebelumnya. Kesibukan kecil justru kembali mengisi setiap sudut rumah. Suara pintu kamar. Suara sandal diseret. Suara sendok beradu dengan piring. Dan suara mereka yang saling memanggil dari ruangan berbeda.
Wina kembali masuk ke kamar. Baru beberapa detik kemudian, suaranya terdengar lagi.
"Bestri!"
Dari dalam kamar terdengar suara mengeluh.
"Jangan ganggu dulu! Aku lagi stres!"
Lucky mengernyit.
"Stres kenapa?"
Pintu kamar Bestri terbuka pelan.
Ia menunjuk pipinya sendiri.
"Lihat."
Lucky dan Wina mendekat.
"Lihat apa?"
"Jerawat."
Lucky memicingkan mata.
"Mana?"
"Nih!"
Lucky semakin mendekat.
"Masih nggak kelihatan."
Bestri langsung memukul pelan lengan kakaknya.
"Kak!"
"Aku hari ini direkam buat konten kan? Kalau jerawatnya kelihatan gimana? Atau gak usah hari ini?"
Lucky mengangguk serius.
"Oh..."
"Kita syuting pakai sisi kiri aja."
"Kak!"
Wina tertawa.
"Udah, Bes. Kalau cuma satu jerawat, nggak ada yang peduli."
Bestri menatap kakaknya.
"Kakak enak ngomong."
"Kenapa?"
"Karena Kakak nggak direkam."
Wina mengangkat alis.
"Kalau aku direkam?"
Bestri menjawab cepat.
"Kita pakai kamera belakang. Biar dosa - dosa di wajah kakak diliat banyak orang"
Lucky tertawa sampai membungkuk.
"Komplotan!"
Bestri ikut tertawa. Suasana rumah kembali hangat.
Di dapur, Bu Inggrit yang sedang membungkus nasi uduk ikut tersenyum.
"Pakai telur dua ya, Bu."
Lucky mengangkat kamera.
"Action!"
Bu Inggrit mengangguk.
"Siap."
Baru beberapa detik merekam...
Ibu malah memasukkan tiga butir telur.
"Bu..."
"Itu kebanyakan."
"Oh iya?"
Ibu tertawa malu.
"Ulang ya."
Di pengambilan kedua...
Ibu justru lupa memasukkan sambal.
"Bu..."
"Sambalnya."
"Aduh..."
"Ulang lagi."
Lucky menurunkan kameranya sambil tertawa.
"Bu, nanti penonton ngira Ibu baru belajar jualan."
Bu Inggrit ikut tertawa.
"Ibu kan memang belajar."
"Belajar apa?"
"Belajar jadi talent."
Wina yang baru keluar dari kamar ikut tertawa.
"Talent paling sibuk."
"Belum mulai syuting saja sudah tiga kali salah."
Bu Inggrit menggeleng.
"Kalau begitu Wina saja yang jadi talent."
Wina langsung mundur.
"Jangan, Bu."
"Kenapa?"