Bayangan Arata mulai berhenti mengikuti hukum fisika pada sebuah Selasa sore di bulan Oktober, tepat saat ia sedang mengedit rekaman piano klasik di studionya.
Sebenarnya, keganjilan ini sudah merayap masuk ke dalam kesehariannya sejak berbulan-bulan lalu—sebuah glitch halus yang awalnya ia anggap sebagai efek samping dari kelelahan kronis atau distorsi cahaya lampu neon. Namun sore itu, malfungsi tersebut mengental. Saat ia beranjak dari kursi untuk mengambil kopi kaleng di vending machine koridor, ia menyadari siluetnya tertinggal dua detik di belakang langkah kakinya. Bayangan itu tidak lagi transparan; ia tampak lebih tebal, seperti tumpahan minyak mentah yang menolak menguap dari lantai beton.
Arata tidak panik, atau setidaknya, ia mencoba merasionalisasinya sebagai gangguan saraf optik. Ia berhenti sejenak, memutar jam tangan mekanik peninggalan kakeknya dengan ujung jari yang gemetar, lalu menunggu bayangan itu perlahan "menyusul" tumitnya dengan gerakan yang berat dan enggan. Penundaan itu terasa menjijikkan, seolah ia sedang menyeret benda padat yang dingin di atas ubin studio yang steril.