Angin musim gugur yang tajam di akhir November menusuk hingga ke tulang, membawa aroma kayu lapuk dan abu dingin dari pelataran Kuil Hai-no-Kage yang terisolasi di puncak bukit Desa Osoroshio. Kuil itu berdiri membeku, sebuah titik koordinat yang seolah terhapus dari peta digital, dikepung oleh kegelapan absolut hutan pinus purba yang seolah menelan sisa-sisa peradaban di bawahnya. Di kejauhan, lampu-lampu kota Prefektur Iwate berkedip pucat seperti sirkuit elektronik yang sekarat, kontras dengan kegelapan absolut hutan pinus yang mengepung kuil. Arata bisa mendengar sayup suara mesin dari jalan tol di bawah sana, sebuah pengingat bahwa dunia modern yang logis hanya berjarak beberapa kilometer, namun terasa jutaan tahun cahaya dari tempatnya berdiri sekarang.
Arata berdiri gemetar di tengah lingkaran garam kasar yang baru saja ditaburkan langsung dari plastik kemasan bermerek supermarket lokal—sebuah anomali modern di tengah ritual kuno. Sebagai seorang teknisi restorasi audio, ia terbiasa dengan presisi; ia menghabiskan hari-harinya di studio Tokyo, menjernihkan vokal dari pita kaset berjamur dan menghapus hiss serta crackle hingga rekaman tua terdengar bening kembali. Namun di sini, ia berhadapan dengan sejenis noise yang tidak bisa dihapus oleh perangkat lunak mana pun.
Ia menatap bayangannya sendiri di atas lantai batu yang retak, sebuah siluet yang tampak lebih hitam dan lebih pekat daripada kegelapan di sudut-sudut kuil. Bayangan itu tidak memiliki gradasi, seolah terbuat dari tinta yang tumpah dan menolak memudar. Arata memasukkan tangan ke saku jaket windbreaker biru tuanya, sebuah gestur pertahanan diri. Di pergelangan tangannya, jam tangan mekanik tua peninggalan kakeknya berdetak—tik, tik, tik—menjadi satu-satunya jangkar realitasnya. Saat stres memuncak, ujung jari telunjuk kanannya mulai gemetar dengan ritme yang sama seperti bayangan ayahnya saat sedang marah.
Di Osoroshio, matahari hanyalah desas-desus yang tersembunyi di balik kabut Tohoku yang abadi; cahaya rendah yang sekarat di cakrawala kini memanjangkan bayangan Arata hingga ke akar pinus, seolah kegelapan itu sedang berusaha menjangkau sesuatu yang lebih purba. Bayangan itu tidak sekadar mengikuti gerakannya; ia seolah memiliki massa, sebuah tumpukan sisa-sisa biologis dari memori yang gagal diproses oleh tubuhnya selama bertahun-tahun. Garam itu bukan sekadar takhayul, melainkan batas frekuensi yang mencoba mengunci trauma tersebut agar tidak merambat keluar dari lingkaran.