Langkah mereka meninggalkan pelataran kuil diikuti oleh bunyi gesekan kain jubah Juro yang terasa berat dan kaku di tengah udara musim dingin yang membeku. Arata berjalan di belakang pamannya, menjaga jarak agar bayangan hitamnya yang masih bergejolak tidak menyentuh tumit Juro. Mereka memasuki rumah kayu yang menyambung dengan bangunan utama kuil—sebuah bangunan yang terasa seperti perpanjangan dari hutan pinus di luar, di mana setiap sudutnya menyimpan aroma kayu lapuk, abu dupa, dan kelembapan dingin yang merayap dari celah lantai. Di ruang tamu yang merangkap ruang makan, cahaya lampu neon yang berkedip memberikan rona pucat pada piring-piring keramik tua yang sudah retak seribu, menciptakan atmosfer yang menyerupai bangsal rumah sakit jiwa yang terbengkalai.
Juro bergerak ke arah dapur tanpa melepaskan jubah ritualnya. Dapur itu adalah laboratorium kegagalan; di sana, lemari es tua mendengung rendah seperti suara statis dari rekaman rusak, mengisi keheningan yang menyesakkan di antara mereka. Juro mengambil dua kopi kaleng dari lemari es tua tersebut. Ia mengaduk kopi kalengnya dengan sendok logam setelah memanaskannya sebentar, menciptakan denting ritmis yang terdengar seperti sinyal darurat di tengah keheningan dapur.
“Duduklah,” suara Juro memecah kesunyian, kering seperti ampelas. “Pekerjaanmu di Tokyo itu... masih membersihkan rekaman suara rusak?”
Arata menarik kursi kayu yang berderit. Ia menyesap kopi kaleng panas yang disodorkan Juro, namun panas cairannya tidak mampu mencairkan rasa dingin yang menjalar dari tumit tempat bayangannya melekat. “Iya, Paman. Menghapus noise dari kaset-kaset berjamur supaya vokal mereka jernih lagi.”
Juro menatap keponakannya dengan mata yang tampak lelah di balik lensa kacamata. “Sama seperti ritual tadi. Kau hapus cacat suara orang lain, tapi bayanganmu sendiri tak bisa kau hapus.”
“Mungkin karena saya terlalu terbiasa dengan suara lama itu,” jawab Arata pelan, jemarinya memutar-mutar permukaan meja yang kasar. “Telinga saya sudah tidak bisa membedakan mana vokal, mana noise.”
Arata menyentuh jam tangan mekanik di pergelangan tangannya, merasakan detak pegasnya yang fungsional di tengah ritual kuno yang baru saja gagal total. Juro memperhatikan gerakan itu. “Kau masih bawa jam tangan kakek yang harus diputar tiap pagi. Masih pakai benda itu sebagai jangkar?”
“Ya. Itu satu-satunya hal yang tetap tepat waktu di hidup saya.”