Langkah kaki Arata bergema hampa di peron stasiun kecil yang tertutup kabut putih pekat, sebuah struktur beton dari era Showa yang tampak seolah-olah baru saja dipotong secara kasar dari dunia luar. Stasiun ini adalah sebuah anomali arsitektur; setiap jengkalnya tampak seperti perangkat elektronik tua yang dibiarkan kehujanan—berkarat, lembap, dan mengeluarkan aura kegagalan yang mekanis. Di bawah lampu neon yang berkedip dengan frekuensi yang mengganggu saraf, rel kereta yang dingin menghilang ke dalam ketidakpastian; tak ada ujung, tak ada awal, seolah dunia telah berakhir tepat di batas garis kuning peron tersebut. Arata merogoh sakunya, menyentuh layar ponselnya yang retak, namun benda itu mati total—bukan karena kehabisan baterai, tapi karena sinyal di tempat ini seolah tersedot ke dalam ruang hampa yang menyelimuti Osoroshio.
Arata berdiri di peron dengan napas yang memburu, paru-parunya terasa perih oleh udara dingin yang tidak mengandung cukup oksigen. Udara di stasiun itu tipis dan kering, sebuah atmosfer yang tidak dirancang untuk kehidupan, melainkan untuk menjaga trauma tetap utuh dan tidak membusuk. Ia memikirkan pengakuan Paman Juro tentang matematika; bagaimana pria itu terpaksa mengubur angka-angka demi mengurus bayangan yang tidak masuk akal. "Atmosfer mati" yang tadi ia tanyakan pada Juro kini ia temukan bentuk fisiknya pada jam dinding Citizen yang jarum detiknya terus berkedut tanpa maju.
Seperti pita kaset yang kusut di dalam head pemutar, waktu di sini seolah terlipat dan menciptakan distorsi yang menyakitkan telinga batinnya. Jam dinding itu menjadi pusat gravitasi stagnansi; jarum detiknya tidak lagi berputar, melainkan hanya bergetar di tempat—maju satu milimeter lalu ditarik kembali oleh kekuatan tak terlihat. Arata mengepalkan tangan di saku jaket windbreaker-nya, merasakan jari telunjuknya gemetar dalam ritme yang sama dengan getaran jarum jam tersebut. Ia mencoba membayangkan sepupunya di Osaka, membangun kode program yang bersih, jauh dari aroma dupa dan bau busuk bayangan yang ia bawa. Pikiran tentang pengarsip bernama Kenji melintas sesaat seperti noise yang mengganggu, namun Arata segera memotong frekuensi itu dari otaknya.
Ia tidak butuh "manual" sejarah; ia hanya butuh sebuah kereta yang bisa membawanya pergi sejauh mungkin dari nama belakangnya sendiri. Beton peron ini terasa seperti magnet raksasa yang menarik seluruh kegelapan di dalam dirinya, membuat bayangan di bawah kakinya terasa berkali-kali lipat lebih berat dan padat. Arata menyadari bahwa kejernihan audio yang ia kerjakan di Tokyo hanyalah upaya sia-sia untuk menutupi kebisingan trauma yang berakar di Tohoku. Stasiun era Showa ini terasa seperti sirkuit paralel yang salah sambung, di mana energi penderitaan hanya berputar-putar tanpa pernah menuju ruang lega.