Upacara Membakar Bayangan

🕯Koo Marko✨
Chapter #5

Radio Transistor dan White Noise yang Terdistorsi

Arata menyusuri gang sempit di distrik kota itu dengan langkah otomatis, sementara jiwanya tertinggal beberapa kilometer di belakang, duduk membatu di peron Nozawa. Gang ini terasa seperti labirin sirkuit yang salah urus; dinding bata yang lembap dilapisi lumut tipis yang berbau seperti oli mesin tua dan hujan yang gagal turun. Pikirannya terus memutar ulang derik jarum jam Citizen yang macet, sebuah irama statis yang kini ia dambakan lebih dari apa pun. Seperti anak kecil yang lidahnya masih mengecap sisa manis permen, Arata merindukan rasa dingin yang menenangkan dari bangku kayu stasiun Showa itu. Baginya, hiruk pikuk distrik kota ini terasa seperti noise yang menyakitkan telinga, kontras dengan "hening yang benar" yang ia temukan di sisi Nozawa.

Ia berjalan tanpa tujuan, hanya untuk memenuhi syarat kebohongannya pada Paman Juro bahwa ia sedang mencari udara segar. Di dalam kepalanya, ia sedang merancang jadwal pelarian berikutnya; menghitung menit hingga Juro tertidur dan ia bisa kembali menjadi bagian dari dekorasi stasiun. Udara malam yang menekan menciptakan atmosfer yang berat, seperti berada di dalam perut sebuah mesin raksasa yang sedang berhenti beroperasi di bawah langit Tohoku yang kelabu. Obsesi pada stagnansi itu perlahan menguras sirkuit kesadarannya, menyisakan kekosongan yang berbahaya di dalam kendali motorik tubuhnya. Ia merasa lebih hidup saat ia berhenti bergerak, sebuah paradoks yang mulai merusak sinkronisasi antara niat dan tindakannya.

Arata tidak menyadari bahwa dengan terus memikirkan tempat di mana waktu berhenti, ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang lain untuk mengisi "waktu" di tubuhnya. Setiap lampu jalan yang ia lewat tampak seperti lentera Nozawa, memanggilnya untuk menyerah dan berhenti peduli pada dunia yang terus berputar. "Satu jam lagi di stasiun," bisiknya dalam hati, sebuah janji pecandu yang tidak sadar bahwa distraksi mental ini menciptakan jeda transmisi antara otak dan ototnya. Ia begitu sibuk melarikan diri ke dalam internalitas stasiun sehingga ia tidak sadar bahwa "wadah" dirinya kini sedang tidak ada penjaganya.

Di bawah cahaya neon pucat dari papan iklan vending machine yang berdengung rendah, Arata berhenti mendadak. Namun, bayangannya di dinding bata yang lembap tidak ikut berhenti; siluet hitam itu terus bergerak selama satu detik penuh—sebuah jeda waktu yang mustahil—dan mengangkat tangan dengan gestur mengancam. Itu adalah gerakan yang kasar dan tajam, sebuah bahasa tubuh yang sangat ia kenali dari masa kecilnya, jenis gerakan yang biasanya diikuti oleh suara barang pecah atau tamparan keras.

Arata merasakan sensasi ganjil pada otot-otot kakinya, sebuah beban tak terlihat yang menyeret tumitnya setiap kali ia mencoba kembali melangkah, seolah-olah gravitasi di bawah kakinya dua kali lebih padat daripada di tempat lain. Udara di sekitarnya berbau seperti oli mesin tua dan hujan yang gagal turun, menciptakan atmosfer yang menekan, seperti berada di dalam perut sebuah mesin raksasa yang sedang berhenti beroperasi.

Dari kegelapan emperan toko yang tutup, seorang gadis duduk di atas kursi lipat plastik dengan tenang. Ia memegang tongkat putih di antara lututnya, dan matanya tertutup kain sutra tipis yang sedikit transparan. Hina menolehkan kepalanya sedikit, seolah-olah ia tidak sedang melihat Arata dengan mata, melainkan sedang mendengarkan frekuensi radio yang berderak dan statis di sekitar tubuh pemuda itu. Di sampingnya, sebuah radio transistor tua mengeluarkan suara desis white noise yang samar, menyatu dengan kesunyian gang yang membeku.

"Kau membawa sesuatu yang sangat berisik di bawah kakimu," ucap Hina datar, suaranya seringan angin yang lewat di sela kabel telepon.

Lihat selengkapnya