Meski kengerian bayangan yang meniru itu masih membekas di dadanya, Arata justru merasa tarikan magnet stasiun Nozawa menjadi sepuluh kali lebih kuat. Seperti seorang teknisi yang dipaksa memperbaiki sirkuit yang terbakar, ia kembali ke peron itu. Baginya, hiruk pikuk kota adalah noise yang menyakitkan, sementara stasiun Nozawa adalah ruang hening yang ia butuhkan untuk meredam kegilaan pikirannya. Ia berbohong lagi pada Paman Juro, mengatakan ia butuh berjalan lebih jauh ke arah hutan untuk mencari sinyal ponsel, padahal kakinya bergerak otomatis menuju beton Showa yang membeku itu.
Petugas Nozawa muncul dari kabut tanpa suara langkah, seolah-olah berat tubuhnya telah menguap bersama penyesalannya yang sudah menjadi udara. Sinar lentera Nozawa yang kuning dan statis menciptakan zona waktu hampa, di mana bayangan benda-benda tidak memanjang atau memendek, melainkan terpaku pada satu titik koordinat yang permanen. Ia tidak tampak mengancam; ia hanya tampak sangat kosong.
"Stasiun ini... tidak ada dalam peta digital saya," Arata membuka suara, mencoba memancing informasi dengan nada teknisi yang hambar. "Sudah berapa lama Anda bertugas di sini, Pak?"
Nozawa tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang tidak mencapai matanya yang sewarna abu dingin. "Waktu di sini tidak dihitung dengan kalender, Nak. Hanya dihitung dengan jumlah detak jantung yang melambat."
Ia mengatur posisi topinya yang miring, lalu menatap jam dinding Citizen yang mesinnya berderik kasar. Jam itu bukan lagi penunjuk waktu, melainkan sebuah instrumen penderitaan; setiap derik mesinnya terdengar seperti frekuensi radio yang rusak, menangkap gema suara masa lalu yang gagal diproses. "Kau teknisi, bukan? Bisa bantu aku menstabilkan jam itu? Getarannya kasar sekali, terdengar seperti suara tangisan anak kecil yang ketakutan."
Nozawa menunjuk ke sebuah pintu kayu bercat hijau kusam di belakang mereka, pintu menuju kantor kepala stasiun yang kacanya tertutup embun putih. Kantor itu terasa seperti paru-paru yang berhenti bernapas; ruangan sempit yang pengap oleh bau kertas tua yang menguning, oli mesin yang mengental, dan kelembapan yang terkunci rapat. "Peralatannya ada di dalam, di atas meja kerja. Sebuah kotak beludru merah. Ambillah. Aku selalu menjaganya tetap tajam, tapi jemariku sudah terlalu ringan untuk memutarnya," ucap Nozawa pelan.
Arata melangkah masuk ke dalam kantor tersebut. Di sana, meja kerja dipenuhi debu halus yang tampak seperti abu ritual, di mana sebuah kotak beludru merah berisi peralatan perak berkilau secara aneh, seolah-olah benda itu adalah satu-satunya hal yang 'hidup' di sana. Arata menemukan kotak perkakas itu—sebuah set obeng presisi dengan gagang perak yang tampak berkilau seolah baru saja dipoles. Saat ia membawanya keluar dan mendekati jam tersebut, Arata merasakan berat logam yang nyata di tangannya; sebuah pengingat bahwa ia masih memiliki massa, berbeda dengan Nozawa yang seolah tak lagi menekan bumi.