Arata melangkah menjauh dari stasiun dengan sisa tenaga yang seolah terus disedot oleh aspal. Di pinggiran distrik ini, aspal yang retak mengeluarkan hawa dingin yang lembap, seolah-olah tanah di bawahnya menolak untuk memberikan kehangatan. Di depan sebuah kedai tua yang tutup, ia kembali menemukan gadis yang beberapa waktu lalu melarikan diri darinya dalam ketakutan.
Hina duduk kaku di atas kursi lipatnya. Radio transistor di sampingnya mengeluarkan desis white noise yang volumenya disetel lebih tinggi dari biasanya—sebuah pagar pelindung yang sengaja dibangun untuk meredam kebisingan dunia. Begitu langkah Arata mendekat, jari-jari Hina langsung mencengkeram erat tongkat putihnya. Bahunya menegang, dan ia sedikit menggeser kursinya menjauh, seolah indra pendengarannya sedang mendeteksi getaran gempa yang akan datang.
"Frekuensi yang sama," ucap Hina datar melalui kain sutra tipis yang menutup matanya, namun ada getaran waspada dalam suaranya. "Tapi kali ini suaranya lebih redup, seperti mesin yang sedang sekarat karena kehabisan pelumas. Setidaknya... piringan hitam itu tidak lagi berputar secepat kemarin."
Melihat Hina yang bersiap untuk melipat kursinya dan pergi lagi, Arata mengangkat tangan dengan gerakan pelan, seolah sedang menghadapi hewan liar yang terluka. "Tunggu," potong Arata cepat, suaranya parau dan sarat akan kelelahan. "Jangan pergi. Aku... aku tidak akan mendekat. Aku akan berdiri di sini, di batas bayangan ini."
Arata menarik napas panjang, mencoba menstabilkan ritme jantungnya agar tidak memicu distorsi pada radio Hina. "Aku tahu suara di bawah kakiku ini menyakitimu. Aku juga membencinya. Aku bahkan tidak ingin tahu apa isinya atau seberapa buruk bunyinya. Aku hanya ingin duduk sejenak tanpa harus membuatmu ketakutan."
Hina terdiam, kepalanya miring dengan ragu, mendengarkan kejujuran dalam nada bicara Arata yang lelah. Perlahan, cengkeramannya pada tongkat mengendur, meski ia tetap menjaga jarak yang aman.
"Aroma stagnansi menempel kuat di jaketmu," Hina akhirnya bersuara pelan. "Kau berbau seperti debu Showa dan waktu yang berhenti. Kau mencari hening di stasiun itu, tapi yang kau temukan hanyalah frekuensi yang mati."
"Aku hanya butuh sedikit ketenangan," bela Arata, menyandarkan punggungnya pada tiang listrik yang dingin. "Namaku Arata. Dan aku tidak tahu kenapa kau terus membicarakan frekuensi seolah aku ini sebuah radio rusak."
Hina tidak segera menyahut. Ia justru memutar tubuhnya membelakangi Arata, jemarinya kembali sibuk meraba-raba dial radio transistornya dengan gerakan protektif. "Aku tidak peduli siapa namamu atau apa masalahmu," gumam Hina, suaranya nyaris tenggelam oleh desis white noise. "Bagiku, kau hanyalah polusi suara yang kebetulan lewat. Pergilah, sebelum bayanganmu membuat kepalaku meledak."