Arata tersesat di antara barisan kios darurat yang dibangun secara serampangan di balik pasar ikan prefektur yang becek. Di sini, dunia terasa seperti area pembuangan data yang rusak; labirin terpal plastik yang berkibar dalam kelembapan pagi yang dingin. Aroma amis yang tajam berpadu dengan bau karat dari pipa-pipa AC tua yang meneteskan air ke atas aspal. Lampu neon merah dari papan nama kedai mi yang sudah mati separuh memantul di atas genangan air asin dan sisa-sisa es yang mencair, menciptakan pemandangan yang menyerupai sirkuit elektronik yang terendam darah. Di dunia ini, segala sesuatu terasa seperti barang sisa yang dipaksakan untuk tetap berfungsi.
Seorang pemuda dengan jaket bomber kebesaran dan topi baseball yang ditarik rendah untuk menghindari sorotan CCTV, Taro, bersandar pada tumpukan peti kayu sambil memainkan pisau kecil yang permukaannya terbuat dari obsidian gelap. Ujung pisau itu tampak mampu membelah cahaya, menyerap setiap sisa pendar neon yang mengenainya tanpa memantulkannya kembali. Taro bersiul rendah, sebuah melodi jazz yang tak beraturan, sementara di telinganya terpasang earphone nirkabel yang terus berkedip biru—sebuah titik modernitas yang ganjil di tengah kekumuhan itu.
Taro berhenti bersiul saat Arata melangkah masuk ke dalam lingkaran cahayanya. Matanya yang licik berpendar saat melihat bayangan Arata yang tampak membengkak dan pekat, seolah-olah ia baru saja menemukan sebuah piringan hitam langka yang sudah lama hilang di tumpukan sampah. Ia menatap bayangan itu dengan rasa lapar seorang kolektor, mengenali tekstur kegelapan yang tidak biasa—sebuah hitam yang memiliki massa dan gravitasi sendiri.
Dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi seperti seorang ahli bedah saraf, Taro mengayunkan pisaunya ke arah tanah. Ia tidak mengincar tubuh Arata, melainkan mencoba mengiris ujung bayangan ayah Arata yang sedang menggeliat liar di atas aspal yang retak. Ujung pisaunya menciptakan suara desis tipis, seperti suara pemutar piringan hitam yang menyentuh bagian akhir rekaman, saat ia berusaha "memotong" secuil dari memori hitam tersebut.