Arata melangkah masuk ke ruang makan dengan pemutar musik titanium tersembunyi erat di saku jaketnya, seolah benda itu adalah jantung mekanis yang baru saja ia curi dari masa depan. Cahaya lampu neon tunggal di atas meja makan berkedip pelan, menjatuhkan pendar yang terlalu jujur ke atas lantai kayu tua yang permukaannya sudah halus oleh usia. Paman Juro sedang menuangkan teh, namun gerakannya mendadak membeku. Matanya yang tajam menangkap sesuatu yang tidak wajar pada siluet yang jatuh di bawah kaki keponakannya.
Bayangan Arata tidak lagi pekat dan bulat seperti biasanya. Kini, tepiannya terlihat kasar dan compang-camping, meninggalkan kekosongan geometris yang ganjil di titik yang seharusnya gelap—seperti file audio yang dipotong secara paksa sehingga menyisakan jeda hening yang tidak alami.
"Duduk," perintah Juro singkat. Suaranya membawa getaran peringatan yang membuat saraf Arata menegang.
Saat Arata menarik kursi, pemutar musik di sakunya membentur pinggiran kayu, mengeluarkan denting logam mahal yang terdengar sangat asing di rumah kuno itu. Denting itu terdengar seperti frekuensi radio yang salah sambung, merusak keheningan tradisional yang dipenuhi aroma dupa yang mengendap. Juro tidak memedulikan tehnya yang meluap. Ia menatap bayangan Arata dengan pandangan seorang kurator yang melihat karya seni berharga baru saja dirusak oleh vandalisme.
"Apa yang kau lakukan pada dirimu sendiri, Arata?" tanya Juro, suaranya rendah namun penuh tekanan. "Kenapa bayanganmu terlihat seperti kain yang digigit tikus?"
Arata menghindari tatapan pamannya, jemarinya meremas kain celananya. "Aku tidak melakukan apa-apa, Paman. Mungkin hanya masalah sudut lampu di ruangan ini."
"Jangan berbohong!" Juro menggebrak meja, membuat cangkir teh bergetar. "Aku menghabiskan seluruh hidupku menjaga agar bayangan busuk ayahmu tidak menyebar ke desa ini, dan kau malah membiarkan seseorang mengirisnya?"