Arata melangkah masuk ke dalam hutan pinus yang tampaknya telah lolos dari hukum optik dasar. Pepohonan di sini tumbuh rapat dengan dahan-dahan kaku yang menyerupai antena pemancar kuno, menciptakan ruang kedap suara yang luas di mana setiap bunyi seolah terserap oleh keheningan. Tak ada sehelai jarum pinus pun yang menjatuhkan bayangan ke atas tanah yang tertutup salju tipis yang permukaannya sangat halus. Di saku jaketnya, Arata bisa merasakan getaran ponselnya yang menerima pesan singkat—sebuah notifikasi tagihan kartu kredit yang terasa absurd dan tidak relevan di tempat di mana gravitasi visual seolah-olah telah dihapuskan.
Cahaya matahari yang pucat meresap menembus segala sesuatu di hutan ini dengan cara yang tidak wajar, seolah-olah udara itu sendiri adalah lampu neon raksasa yang menyala dari segala arah. Waktu seolah dipaksa berhenti pada jam dua siang yang abadi, menciptakan siang hari yang konstan namun tanpa kehangatan sama sekali. Dunia di sekelilingnya kehilangan kontras, menciptakan pemandangan dua dimensi yang membuat mata Arata perih karena kehilangan dimensi kedalaman yang biasanya diberikan oleh sisi gelap. Tanpa adanya bayangan, ia merasa seperti sedang berjalan di dalam sebuah foto yang gagal dicetak, atau di dalam simulasi komputer yang lupa merender bagian hitam.
Di tengah sebuah kliring yang dikelilingi oleh bebatuan berlumut, Bibi Rei duduk bersila di atas batu datar dengan punggung setegak garis penggaris baja. Kliring itu tampak seperti panggung putih yang steril, di mana bebatuan di sekelilingnya terlihat tajam namun aneh karena tidak memiliki sisi gelap. Ia mengenakan headphone peredam suara yang modern dan mahal, namun tidak ada kabel yang terhubung ke mana pun—sebuah benda plastik dingin yang terasa absurd di tempat yang tidak memiliki sinyal ini. Saat ia bergerak sedikit untuk menyesuaikan posisinya, tidak ada siluet hitam yang memanjang atau bergeser di belakang tubuhnya; ia tampak seperti objek yang ditempelkan secara kasar di atas latar belakang putih.