Upacara Membakar Bayangan

🕯Koo Marko✨
Chapter #11

Penutup Kuningan dan Negosiasi Sinyal yang Terinfeksi

Arata berdiri di peron Nozawa, menggenggam kantong makanan hingga plastiknya berkeringat di telapak tangannya. Stasiun yang biasanya menjadi suaka itu kini terasa seperti kotak kaca yang kehabisan oksigen; udara di dalamnya statis dan berat, dipenuhi partikel debu yang menggantung diam seolah-olah gravitasi telah menyerah. Setiap detak jam tua di dinding kini terdengar seperti palu yang memaku peti mati. Ia meletakkan bungkusan makanan itu di samping Pak Nozawa—sebuah upaya sia-sia untuk menyuap rasa bersalah karena kini ia melihat pria tua itu bukan sebagai teladan ketenangan, melainkan cermin keputusasaan yang membeku.

"Aku membawakan ini... hanya agar aku tidak merasa seperti pencuri waktu saat duduk di sini," gumamnya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh desis angin peron. "Maaf, aku tidak bisa lama-lama." Rasa mual yang mencekik membuat paru-paru Arata terasa seperti diisi oleh serbuk gergaji dan waktu yang berhenti; aroma debu dan stagnansi di sana kini terasa seperti kuburan massal bagi ambisi yang mati.

Bayangan Bibi Rei di Hutan Tanpa Bayangan terus berputar di kepalanya seperti film rusak. Horor kehampaan itu adalah vonis yang nyata. Dengan langkah gelisah, ia melarikan diri dari stasiun menuju emperan toko tempat Hina berada. Arata tidak langsung bicara; ia duduk cukup lama, kepalanya tertunduk hingga menyentuh lutut.

"Kau memancarkan statis yang sangat berisik, Arata," tegur Hina tanpa menoleh. Jemarinya gemetar hebat, memutar dial radio transistornya dengan gerakan yang tidak lagi presisi—seolah frekuensi Arata mulai menginfeksi radarnya. Dial itu mengeluarkan pekikan statis yang tidak stabil, suara desis yang terdengar seperti kabel sirkuit yang terbakar di bawah hujan. "Sinyalmu... hancur. Seperti ada yang mencoba mencabut kabel utamamu secara paksa."

Arata meremas rambutnya, air mata kelelahan nyaris pecah. "Bibi Rei... dia tidak punya apa-apa lagi. Hanya keheningan yang kosong," bisiknya parau. "Aku takut jika bayanganku terus tumbuh, aku menjadi monster, tapi jika kupotong, aku akan menjadi kosong seperti dia. Aku tidak tahu harus lari ke mana lagi, Hina."

Hina menghentikan putaran radionya. Ia menarik napas panjang yang terdengar berat, seolah udara di sekitar Arata terlalu tebal untuk paru-parunya. Ia tidak langsung menjawab; ia justru meraba ujung tongkat putihnya, menekan-nekannya ke aspal seolah sedang mencari pijakan di atas tanah yang retak.

Lihat selengkapnya