Upacara Membakar Bayangan

🕯Koo Marko✨
Chapter #12

Hard Drive Berdebu dan Klaustrofobia Kode yang Rusak

Arata duduk di tepi tempat tidur kamar sepupunya, menatap kegelapan yang terasa pekat dan diam, seolah-olah ruangan itu sendiri sedang menahan napas bersamanya. Kamar ini terasa seperti sebuah hard drive tua yang berdebu; dinding-dindingnya dipenuhi tumpukan majalah komputer tua yang lembap, menciptakan aroma kertas lapuk yang menyatu dengan bau debu kuil yang menua. Bau tersebut mengisi rongga parunya, menciptakan atmosfer stagnansi yang membuatnya sulit berpikir jernih. Di bawah cahaya rembulan yang tipis, ia menatap tumitnya sendiri; bayangan itu tampak membeku, namun ia bisa merasakan getaran frekuensi rendah yang menyakitkan di sana—sebuah noise yang menolak untuk diredam oleh dupa maupun doa.

"Gagal lagi," gumamnya pelan. Ujung jari telunjuk kanannya mulai gemetar, mengikuti ritme detak jantungnya yang tidak beraturan. Ia meraih jam tangan mekanik peninggalan kakeknya, memutar tombolnya dengan gerakan obsesif. Detak jam itu bergema di dalam kamar yang sunyi seperti hitungan mundur ledakan—satu-satunya jangkar realitas di tengah kehancuran spiritualnya. Namun, kini suara detaknya terdengar seperti peringatan teknis bahwa sistem di dalam dirinya sedang menuju kerusakan total.

Pikiran Arata melayang kembali ke dapur, pada suara amplas Paman Juro yang pernah menyebutkan sebuah nama yang sebelumnya ia abaikan: Kenji. Selama ini, ia menganggap masa lalu adalah gangguan suara yang harus dihapus, namun kini ia menyadari bahwa ia tidak bisa merestorasi file yang tidak pernah ia buka kodenya. Ia merasa seperti teknisi restorasi yang mencoba memperbaiki pita kaset tanpa tahu bahasa asli yang digunakan dalam rekaman tersebut.

Arata tidak tahan lebih lama lagi di kamar itu; dinding-dindingnya seolah perlahan bergeser menyempit, menciptakan sensasi klaustrofobia yang mencekik setiap oksigen yang tersisa. Dengan gerakan yang lebih mirip pelarian daripada keberangkatan, ia menyelinap keluar dari Kuil Hai-no-Kage, membiarkan kabut malam Tohoku yang tajam menyeka keringat dingin di dahinya. Langkah kakinya, yang kini terasa lebih berat akibat bayangan yang "bocor", membawanya kembali ke emperan toko tempat Hina duduk mematung.

Lihat selengkapnya