Arata melangkah masuk ke sebuah bangunan tua di sudut terpencil desa, sebuah struktur beton brutalistik yang tampak seperti sisa gudang militer namun dipenuhi rak-rak kayu raksasa yang melengkung karena beban sejarah. Di dalamnya, udara terasa diam dan kering, dipenuhi ribuan gulungan kertas tua yang tampak rapuh di bawah lapisan debu yang setebal salju musim dingin. Di atas salah satu meja kerja, sebuah lampu meja halogen modern yang terlalu terang berdengung rendah, menciptakan lingkaran cahaya yang terlalu tajam bagi ruangan yang seolah menolak waktu ini.
Dari balik tumpukan buku yang nyaris menyentuh langit-langit yang retak, muncul Kenji. Ia adalah pria dengan kacamata retak yang ditempel isolasi bening, mengenakan jam tangan Casio digital yang talinya sudah putus dan diganti dengan karet gelang. Jemarinya selalu berwarna hitam, bukan hanya karena tinta printer modern yang tumpah, tetapi karena jelaga dari kertas-kertas yang terbakar berabad-abad lalu. Kenji bergerak dengan efisiensi seorang pustakawan yang sudah lupa bagaimana rasanya bercakap-cakap dengan manusia hidup.
Kenji sering kali tertangkap sedang menatap jam Casio digitalnya selama beberapa detik terlalu lama, bukan untuk melihat waktu, melainkan untuk menghitung jarak antara dirinya yang sekarang dengan pemuda yang dulu pernah mendaki tangga perpustakaan di Tokyo. Di balik kacamata retaknya, ada memori tentang aroma kopi mahal dan diskusi sosiologi yang jernih—sebuah dunia di mana data adalah angka statistik yang bersih, bukan tumpukan kertas yang berbau kematian. Ia melepaskan impian itu saat mata ayahnya mulai meredup, menukar masa depannya dengan tanggung jawab menjadi "tempat pembuangan akhir" bagi dosa-dosa desa ini. Baginya, menyerah bukan berarti kalah; itu hanyalah sebuah proses shutdown yang dilakukan demi menjaga agar sistem desa tetap berjalan.
"Kau punya tangan yang stabil," ucap Kenji tanpa basa-basi, suaranya kering seperti gesekan kertas. "Jangan berdiri di sana seperti patung beton. Naiklah ke tangga itu. Rak 4-C, cari gulungan dengan kode 'S-1940'. Raknya melengkung, jangan sampai kau menjatuhkan sejarah ke lantai."
Selama satu jam yang menyesakkan, Arata dipaksa menjadi asisten pengarsip. Ia memanjat tangga kayu yang berderit, menyusun fragmen kertas rapuh, dan membantu Kenji mengaudit laci-laci besi yang macet. Debu-debu sejarah menempel di jaket windbreaker-nya, membuat setiap napas Arata terasa berat oleh sisa-sisa masa lalu orang lain. Setelah tumpukan itu rapi, Kenji menyesap kopi instannya yang sudah dingin.
Masalah terbesar Kenji bukanlah debu atau kesepian, melainkan ketidakmampuannya untuk melupakan. Setiap kali ia menyentuh sebuah dokumen, otaknya melakukan rendering ulang terhadap peristiwa di dalamnya dengan ketajaman yang menyakitkan. Ia ingat warna baju seorang ibu yang menangis lima puluh tahun lalu seolah itu terjadi lima menit yang lalu. Hyperthymesia menjadikannya sebuah server dengan kapasitas penyimpanan tak terbatas yang tidak memiliki tombol 'delete'. Kenji sudah lama berhenti mencoba mencari kebahagiaan; baginya, kebahagiaan hanyalah variabel acak yang terlalu berisik di tengah keteraturan arsip yang ia jaga.
Arata menatap ribuan gulungan kertas di sekelilingnya dengan skeptis, terbiasa dengan efisiensi database digital di studionya yang bisa mencari ribuan file dalam hitungan detik. Seolah membaca pikiran Arata, Kenji bergumam tanpa mengalihkan pandangan dari katalognya, "Data digital terlalu mudah untuk berbohong, Arata. Di sana kau bisa menghapus noda hanya dengan satu klik. Tapi di sini, tinta tidak pernah bisa menarik kembali apa yang sudah terlanjur tertulis. Kami menyimpan kebenaran yang tidak bisa diedit."
Kenji menatap Arata melalui lensa kacamatanya dengan pandangan seorang kurator yang sedang memeriksa mesin rusak. Arata mendeteksi ada rasa iba yang terkubur sangat dalam di sana, namun Kenji menutupinya dengan birokrasi yang kaku. Pria itu sengaja bersikap dingin karena ia tahu, jika ia membiarkan sedikit saja emosi masuk, suara-suara dari ribuan dokumen di sekelilingnya akan meledak dan menghancurkan satu-satunya kendali yang ia miliki. Ia memberikan informasi pada Arata bukan karena ingin membantu, tapi karena secara teknis, data tersebut memang harus sampai pada pemilik sahnya.