Upacara Membakar Bayangan

🕯Koo Marko✨
Chapter #14

Apple Watch dan Ekstraksi Merkuri Emosional

Arata melangkah masuk ke sebuah kedai kayu kecil yang tersembunyi di balik tirai kabut tebal, sebuah bangunan yang tampak seolah-olah terselip di sela-sela dimensi waktu. Di atas pintu masuk, sebuah lonceng tembaga berkarat berdenting pelan, sementara di sudut ruangan, sebuah pemutar kaset vintage memutar lagu piano minimalis dengan hiss statis yang halus—rekaman latihan mendiang suami Yuki yang penuh suara napas terjepit. Uap panas yang merayap keluar dari celah pintu dapur tidak berbau seperti teh hijau pada umumnya, melainkan membawa aroma tanah basah setelah hujan badai dan bau apek kenangan yang sudah terlalu lama terpendam di loteng.

Di balik meja kayu yang menghitam dan mengilap oleh usia, Madame Yuki menyambutnya tanpa sepatah kata pun. Ia mengenakan kimono sutra berwarna abu-abu pudar yang dipadukan dengan jam tangan pintar Apple Watch yang layarnya terus memancarkan grafik detak jantung yang stabil—sebuah anomali cahaya biru di tengah remang kedai. Gerakan tangannya sangat tenang dan presisi, seolah ia telah menghabiskan ribuan tahun hanya untuk menunggu seseorang yang membawa beban seberat Arata.

Dahulu, Yuki adalah arsitek dari dunia yang dibangun di atas probabilitas dan algoritma di sebuah bank investasi global di Tokyo. Baginya, manusia hanyalah deretan angka statistik yang bisa diprediksi. Namun, ketika suaminya—seorang pianis yang jiwanya terlalu tipis untuk menahan kebisingan dunia—memilih untuk menghilang ke dalam keheningan abadi, seluruh sistem logika Yuki mengalami crash total. Ia meninggalkan gedung pencakar langit yang steril untuk mengelola kedai yang membusuk ini, menyadari bahwa satu tetes air mata mengandung lebih banyak kebenaran daripada seribu laporan tahunan yang pernah ia susun.

"Paman Juro yang mengirimku," Arata akhirnya bersuara, suaranya terdengar asing di tengah denting kaset. "Aku butuh jawaban."

Yuki melirik grafik di jam tangannya yang berdenyut biru statis, menunjukkan detak jantung yang terlalu teratur bagi seseorang yang masih hidup secara emosional. Layar digital itu adalah satu-satunya jangkar yang meyakinkannya bahwa ia masih merupakan organisme biologis yang berfungsi; sebuah peringatan teknis bahwa jantungnya tidak lagi mampu berdegup kencang karena kegembiraan maupun kesedihan. Ia telah menjadi sensor yang sempurna justru karena ia tidak lagi memiliki perasaan yang bisa mengintervensi data emosional orang lain.

"Juro mengirimmu bukan untuk mencari, tapi untuk menitipkan," ucapnya datar. "Kau membawa terlalu banyak air yang membeku di dalam matamu, Arata. Itu membuat mesin jiwamu berkarat. Berikan aku air mata itu sebagai bahan bakar, atau kau akan hancur oleh karatmu sendiri."

Arata mengerutkan kening, menatap Madame Yuki dengan tatapan tidak percaya. "Berikan air mata? Apa maksudmu? Aku datang ke sini karena Juro bilang kau punya jawaban, bukan untuk melakukan pertunjukan sirkus."

Setiap kali pemutar kaset vintage itu berputar, Yuki sebenarnya sedang melakukan ritual penyiksaan diri yang halus. Suara napas terjepit dan gesekan jari suaminya pada tuts piano adalah satu-satunya noise yang ia izinkan masuk ke dalam keheningannya. Di tengah desis statis rekaman itu, Yuki mencari frekuensi di mana ia mungkin bisa merasakan kembali rasa sakitnya sendiri, namun yang ia temukan selalu sama: sebuah garis datar yang dingin.

Yuki tidak tersinggung. Ia menggeser sebuah pipet perak ke tengah meja. "Ini bukan sirkus, Arata. Ini ekstraksi. Aku tidak butuh ceritamu, aku butuh 'bahan bakarnya'. Jawaban yang kau cari tidak ada pada kata-kata, tapi pada rasa sakit yang kau kunci rapat-rapat. Ingatlah kembali momen yang paling ingin kau hapus dari kepalamu. Biarkan satu tetes saja jatuh, dan aku akan menunjukkan apa yang tersembunyi di baliknya."

Arata mulai ragu. Ia menyadari bahwa syarat untuk mendapatkan jawaban adalah dengan membuka kembali trauma yang selama ini ia coba bungkam dengan noise statis.

Lihat selengkapnya