Tujuh puluh dua jam telah berlalu sejak arus ritual itu diputus secara paksa oleh Juro, menyisakan bau hangus yang masih mengambang kaku di udara, melapisi paru-paru Arata seperti isolator yang menyesakkan. Tanpa aliran mantra, Kuil Hai-no-Kage kembali ke sifat aslinya: sebuah sirkuit yang membeku dalam sunyi.
Arata mengurung diri di kamar lama sepupunya. Kamar itu adalah ruang hampa udara, sebuah kapsul waktu yang dipenuhi tumpukan majalah komputer tua dan bau debu elektrostatis. Dulu, sebelum sepupunya pindah ke Osaka, ini adalah kamar orang tua Arata—ruangan tempat ia menghabiskan tahun-tahun pertamanya sebelum amarah ayahnya membakar habis sirkuit keluarga mereka. Di sudut-sudutnya, masih tersisa jejak fungsional yang usang, seperti noda bekas stiker alfabet yang sudah dikupas paksa di balik pintu.
Setiap kali ia menarik napas, sisa kehangatan teh dari Madame Yuki seolah berdenyut kembali di dadanya, membawa sensasi panas yang tidak wajar. Penglihatannya sesekali goyah, memantulkan kilasan visi tentang ayahnya yang menangis di sudut dapur—sebuah residual data yang kini menolak untuk dihapus. Arata merasa seolah Madame Yuki masih mengawasinya melalui grafik detak jantung di pergelangan tangannya, memaksanya untuk tidak hanya melihat masa lalu sebagai luka, tapi sebagai arsitektur yang membentuk dirinya.
Di bawah meja teknik yang permukaannya sudah melengkung oleh beban waktu, Arata menemukan sebuah kotak peralatan logam. Engselnya memekik pendek saat ia memaksanya terbuka, melepaskan aroma timah dingin dan kegagalan yang tersimpan rapat. Di dalamnya, ia menemukan sebuah radio transistor tua yang jeroannya terburai seperti urat syaraf yang ditarik paksa. Arata menyentuh bekas solderan pada sirkuit itu. Timahnya menggumpal tidak beraturan, kasar, dan penuh residu gosong.
Sebagai seorang teknisi, Arata mengenali gaya itu. Ia mengenali cara timah itu dipaksa meleleh—sama persis dengan cara ayahnya dulu mencoba memperbaiki mainan Arata yang rusak dengan amarah yang tertahan. Di bawah sirkuit yang hangus itu, terselip sobekan kertas dengan tulisan tangan ayahnya yang cakar ayam—tulisan yang pernah ia lihat di buku tabungan tua ibunya, juga di catatan yang ia peroleh dari Kenji. Pesan itu berbunyi: “Frekuensinya terus melompat. Aku tidak bisa mengunci gelombangnya. Seolah-olah udara di rumah ini menolak untuk menghantarkan suara.”
Arata menyadari bahwa ayahnya tidak sedang memperbaiki radio ini dulu; ia sedang mencoba membungkam noise di kepalanya melalui benda ini, tepat di kamar yang seharusnya menjadi tempat mereka beristirahat dengan tenang.
Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Pendek dan kaku.