Upacara Membakar Bayangan

🕯Koo Marko✨
Chapter #16

Piringan Hitam Bach dan Refleksi Data yang Terfragmentasi

Arata melangkah masuk ke sebuah toko sempit yang terjepit di antara deretan apartemen beton yang seragam. Dinding-dindingnya tidak ditutupi oleh kertas dinding atau cat, melainkan oleh ribuan kepingan cermin dengan berbagai ukuran dan zaman—mulai dari cermin rias zaman Edo yang sudah buram hingga cermin perak modern dengan bingkai baja tahan karat. Pantulan cahaya dari lampu neon di langit-langit saling bertabrakan dan memantul di antara permukaan kaca tersebut, menciptakan labirin optik yang memusingkan mata, seolah-olah realitas di dalam ruangan ini telah dipecah menjadi ribuan fragmen data yang tidak koheren.

Di sudut ruangan yang temaram, di bawah sorot lampu meja arsitek yang kaku, Pak Sato duduk dengan ketenangan seorang ahli bedah. Ia sedang mengamplas pinggiran tajam dari sebuah cermin yang sengaja dipecahkan dengan palu kecil, sementara sebuah pemutar piringan hitam di sampingnya memutar lagu klasik Bach yang penuh dengan scratch dan desis halus. Sato tampak tidak terganggu oleh ribuan refleksi dirinya yang terdistorsi di sekelilingnya; baginya, wajah manusia yang utuh mungkin terasa terlalu membosankan dan kurang jujur.

Toko itu terasa sesak, seolah oksigen di dalamnya telah dihabiskan oleh dua orang sebelum Arata menginjakkan kaki di sana. Saat Arata melangkah lebih jauh, ia merasakan udara tidak hanya kering karena debu kaca, tapi juga hangat dan lembap, membawa aroma parfum mawar yang samar dan basi bersentuhan dengan bau tajam oli amplas.

"Kau datang di waktu yang salah," gumam Sato tanpa mengalihkan pandangan dari meja kerjanya. Suaranya parau, beradu dengan scratch piringan hitam Bach yang tiba-tiba terdengar seperti kuku yang menggaruk dinding beton. "Tapi kurasa, orang-orang seperti kau memang tidak pernah datang di waktu yang tepat."

Sato tidak menyambutnya dengan kata-kata filosofis. Tangannya yang kapalan justru bergerak terburu-buru namun tetap presisi, menyambar sebuah cincin perak yang tergeletak di meja amplas dan menutupinya dengan pecahan kaca buram—seolah sedang menyembunyikan sebuah dosa kecil di bawah tumpukan trauma. Ia sesekali melirik ke arah tirai beludru kumal di belakangnya yang masih sedikit bergoyang, seolah sedang memantau detak napas seseorang yang bersembunyi di sana.

Arata mengerutkan kening, telinga teknisinya menangkap gesekan kain yang halus di balik tirai itu. "Madame Yuki bilang kau bisa membantuku memahami retakan ini," ucap Arata ragu.

"Yuki selalu bicara seolah dunia ini adalah laboratorium," potong Sato cepat dengan nada tidak sabar. Ia tidak ingin berlama-lama; ia ingin toko ini kembali sepi agar rahasia di balik tirai tetap aman. "Bagiku, ini hanya soal sudut pandang. Jangan banyak bertanya. Di toko ini, bibirmu tidak berguna. Hanya matamu yang punya hak bicara."

Lihat selengkapnya