Setelah peristiwa di Toko Cermin Sato, Arata tidak kembali ke stasiun Nozawa. Bayangan ketenangan mati milik Petugas Nozawa—keheningan yang rapi namun kosong—membuatnya bergidik lebih ngeri daripada bayangan ayahnya sendiri. Ia juga tidak sanggup kembali ke Kuil Hai-no-Kage; ia tidak siap bertemu tatapan kaku Paman Juro yang selalu mengingatkannya pada kegagalan yang diwariskan. Dengan sisa tenaga dan kewarasan yang menipis, Arata menuju ke pinggiran kota, tempat sebuah pusat perbelanjaan terbengkalai berdiri seperti bangkai beton yang sunyi di bawah langit kelabu.
Arata tidak mengetuk pintu kayu, melainkan memukul pelan besi rolling door yang separuh macet di sebuah sudut gelap bekas toko arloji. Ia membawa kantong plastik berisi beberapa kaleng kopi panas, onigiri, dan roti isi sebagai "biaya sewa" yang kikuk bagi sang penghuni gedung. Hina, yang berdiri di balik remang ruangan dengan kain sutra tipis menutupi matanya, tidak banyak bertanya. Ia memiringkan kepalanya, mendengarkan frekuensi Arata yang kini terdengar seperti radio yang frekuensinya bergeser—tidak lagi hanya berisi kebencian, tapi juga keraguan yang bising. Hina menarik sedikit tirai plastik kusam yang menjadi pembatas dunianya, membiarkan Arata meringkuk di sudut ruangan di antara desis radio transistor tuanya yang menyemburkan white noise.
Tiga hari berlalu dalam keheningan yang janggal di tengah kekosongan gedung itu. Arata menghabiskan waktunya meringkuk di atas semen dingin, mencoba menyetel ulang frekuensi di kepalanya yang terus-menerus memutar visual ayahnya yang tercekik di cermin Sato. Namun, pada sore hari ketiga, suara langkah kaki yang ritmis dan efisien menggema di koridor beton yang kosong, memecah pagar statis radio Hina. Taro muncul dari balik bayangan pilar dengan binar licik yang kosong di matanya, seolah sedang menginspeksi aset yang sangat berharga. Ia tidak tampak merasa bersalah telah mengusik persembunyian itu; sebaliknya, ia menyesuaikan posisi earphone nirkabelnya dengan gerakan tangan yang presisi, lalu memberikan isyarat pelan kepada seorang wanita di belakangnya. Emi melangkah maju, mengenakan kardigan wol kebesaran yang aromanya pernah Arata hirup di balik tirai Sato.
Wanita itu memandang Arata dengan tatapan yang seolah-olah sudah mengenalnya selama berpuluh-puluh tahun. Atas bantuan Taro yang memiliki jaringan informasi di setiap sudut gelap kota, Emi akhirnya menemukan Arata. Tanpa banyak kata, ia meminta Arata mengikutinya ke pemukiman tua di Tohoku—sebuah tempat di mana waktu seolah berhenti berputar.
Malam di pemukiman tua itu terasa begitu berat, seolah-olah atmosfer telah berubah menjadi cairan kental yang menekan gendang telinga. Di luar, suara angin yang bersiul di sela-sela seng atap yang berkarat terdengar seperti bisikan rahasia yang tidak ingin didengar oleh siapa pun, sebuah percakapan antara kayu yang melapuk dan langit yang kelabu. Arata berdiri di depan sebuah rumah kayu yang nyaris runtuh, di mana sebuah lampu pijar tua di atas beranda bergoyang pelan, menciptakan bayangan yang berayun dengan ritme yang tidak menyenangkan, seperti pendulum jam yang rusak.
Di dalam ruangan yang berbau debu dan kertas lama, Emi tidak langsung bicara. Ia bangkit dari tataminya dengan gerakan ringkih, seolah-olah tulang-tulangnya terbuat dari kayu kering yang bisa pecah kapan saja. Sebelum Arata sempat bereaksi, Emi sudah melangkah maju. Tangannya yang seringan debu terangkat perlahan tanpa meminta izin.
Jemarinya yang pucat menyisir garis rahang Arata, meraba tulang pipinya dengan kelembutan yang menyakitkan, seolah-olah ia sedang membaca huruf braille yang tertulis di kulit pemuda itu. Matanya tidak melihat Arata yang sekarang; ia melihat hantu dari tiga puluh tahun yang lalu. Dalam kepalanya yang terjebak sindrom kehilangan waktu, Emi seakan menemukan kembali kehangatan yang telah lama menguap.
Tatapan wanita itu terpaku pada garis keras di kening Arata—sebuah parut emosional yang ia kenali persis kapan dan bagaimana pertama kali terukir di wajah pria yang dicintainya dulu. Namun, ada sesuatu yang asing yang membuatnya ragu; ia tidak menemukan binar lembut yang biasanya selalu berpendar saat pria itu menemukan bunga liar di balik semak. Alih-alih cahaya, ia justru melihat sepasang mata yang kini telah berubah menjadi ladang penuh duri, tajam dan menolak untuk disentuh.
Arata mematung, merasakan sirkuit batinnya korsleting. Ia ingin menghindar, namun aroma mawar basi dan kehangatan jari Emi membuatnya merasa seperti sedang disentuh oleh masa lalu yang tidak pernah ia miliki.