Arata meninggalkan rumah tua di Tohoku dengan kaki yang terasa seperti timah. Amukan bayangannya telah menguras seluruh sisa energi, menyisakan kekosongan dingin yang seolah menyedot udara dari paru-parunya. Di luar, udara malam gunung terasa sangat padat, terkontaminasi oleh aroma kayu lapuk dan sisa-sisa doa yang menggantung rendah di udara. Ia tidak kembali ke persembunyian Hina; ia membutuhkan sesuatu yang lebih stabil, sesuatu yang fungsional meski sudah usang. Langkahnya menyeret kembali ke Kuil Hai-no-Kage.
Saat ia melewati gerbang kuil, suara beep pendek dari jam Casio plastik milik Paman Juro memecah kesunyian, menandakan tepat pukul sepuluh malam. Bunyi itu terasa seperti satu-satunya hal yang jujur di tempat tersebut—sebuah detak mekanis yang bergerak maju secara presisi, sangat kontras dengan kenangan Arata yang terus melingkar di titik trauma yang sama. Di teras, Juro duduk tegak dalam kemeja Uniqlo putih yang disetrika kaku, jemarinya yang kapalan bergerak ritmis membersihkan kacamata baca dengan kain mikrofiber.
Tidak ada pertanyaan dari Juro, tidak ada penghakiman. Keheningan di antara mereka berdiri kokoh layaknya perisai yang sengaja dibangun agar tidak ada emosi yang meluap. Arata menatap pamannya, melihat dua buah mesin yang sama-sama berisik di dalam namun dipaksa diam oleh dinding kuil yang kaku. Juro melarikan diri dari hantu dengan merakit miniatur kapal perang yang rumit, sementara Arata merakit kemarahannya sendiri untuk tetap bisa berdiri. Mereka adalah dua rangkaian kabel yang salah pasang, terjebak dalam sirkuit yang sama.