Arata tiba di sebuah kebun luas di pinggiran desa yang tampak seperti potongan memori yang gagal terhapus. Kebun ini terasa seperti ruang simulasi yang gagal merender bayangan; ratusan patung batu putih bersih berdiri berjajar di atas tanah yang permukaannya halus dan kering. Namun ada sesuatu yang secara optik salah di sana; meski cahaya matahari terakhir jatuh dengan sudut yang tajam, tak satu pun dari patung itu memproyeksikan bayangan ke atas tanah. Di tengah kebun, sebuah pemutar piringan hitam portabel memutar lagu jazz lama yang suaranya terdengar jernih namun tidak memiliki gema, seolah-olah udara di sana terlalu padat untuk membawa suara.
Di balik denting lagu jazz lama yang ia putar, Ibu Hana sebenarnya sedang membangun barikade audio untuk membungkam suara kesunyian yang terlalu nyaring. Musik itu jernih, namun seperti yang Arata sadari, ia tidak memiliki gema—sebuah fenomena akustik yang terjadi karena ruangan itu penuh dengan objek yang tidak lagi memiliki "jiwa" untuk memantulkan suara. Hana memutar piringan hitam itu bukan untuk dinikmati, melainkan sebagai pengingat frekuensi dunia luar yang masih memiliki ritme dan kekacauan. Baginya, setiap nada jazz yang improvisatif adalah antitesis dari penduduk desa yang kini hidup dengan pola yang terlalu rapi dan terlalu datar.
Di antara barisan batu yang dingin tersebut, Ibu Hana berdiri dengan pahat baja modern di satu tangan dan palu kayu tua di tangan lainnya. Ia mengenakan kacamata pelindung plastik yang memantulkan langit kelabu dengan presisi teknis, membuatnya tampak seperti seorang teknisi yang sedang memperbaiki sebuah sirkuit yang rusak di tengah masa lalu. Melalui lensa kacamata itu, Hana melihat dunia dengan distorsi yang ia kendalikan sendiri; ia merasa lebih aman melihat Arata melalui lapisan plastik kusam tersebut, seolah-olah kejujuran emosional yang dibawa pemuda itu terlalu tajam untuk matanya yang sudah terlalu lama menatap putihnya marmer.
Hana berhenti memahat sejenak, namun ia tidak menoleh. Matanya terpaku pada bayangan hitam di bawah kaki Arata yang masih bergejolak tidak stabil.
"Kau membawa kebisingan yang menarik, Arata," suara Hana terdengar datar, nyaris mekanis di bawah irama jazz. "Emi mengirim pesan singkat semalam, tapi bayanganmu sudah mengumumkan kedatanganmu jauh sebelum kau sampai di gerbang kebun ini. Ia bergetar di frekuensi yang sudah lama tidak kudengar; seperti mesin tua yang dipaksa bekerja melampaui batasnya."
Arata melangkah di antara patung-patung itu, mengamati detail mereka yang meresahkan. "Dia bilang kau satu-satunya orang di desa ini yang masih memiliki bayangan... dan masih memilih untuk hidup dengan beban itu."
Hana kembali menggerakkan pahatnya dengan ritme yang menghantui. Tangannya bergerak dengan stabilitas yang hampir tidak manusiawi, tanpa keraguan, seolah sedang melakukan autopsi pada ingatan. "Memilih hidup adalah terminologi yang mewah. Aku hanya memilih untuk tidak menjadi datar. Aku memilih untuk tetap memiliki lekukan, meski lekukan itu berisi rasa sakit."
Ia mengarahkan ujung pahatnya ke arah barisan patung putih di sekeliling mereka. Setiap patung memiliki proporsi tubuh yang sempurna dan wajah yang tersenyum damai, namun kehilangan guratan lelah, kerutan berpikir, atau tekstur kulit yang nyata. Cahaya senja yang membeku memberikan rona oranye pucat pada marmer itu, mempertegas betapa tidak alaminya kehalusan permukaan mereka.
"Lihat wajah mereka," lanjut Hana. "Tidak ada kerutan, tidak ada noda. Penduduk desa menyebut ini 'kedamaian'. Aku menyebutnya 'kegagalan optik'. Tanpa bayangan yang jatuh di sudut mata, kau tidak akan tahu apakah seseorang sedang tersenyum karena bahagia atau karena ia sudah lupa cara menangis."