Arata berdiri di tepian sungai yang airnya tampak hitam dan tenang, mengalir dengan suara desis halus seperti pita kaset yang diputar tanpa rekaman. Di permukaannya, serpihan es mulai mengapung dan beradu di atas lumut beku, menciptakan bunyi denting kecil seperti pecahan kaca yang memantulkan langit kelabu di atas Tohoku. Di seberang sungai, terlihat sebuah menara transmisi listrik yang berdiri tegak namun kesepian, sebuah kerangka baja modern yang tampak asing di tengah lanskap yang seolah baru saja membeku dari zaman kuno.
Di atas bebatuan sungai yang licin, seorang pemuda bernama Seiji duduk memeluk lututnya. Ia mengenakan jaket windbreaker bermerek mahal yang warnanya sudah memudar karena paparan cuaca, dan di sampingnya tergeletak sebuah pemutar musik digital yang layarnya terus menyala biru namun tak mengeluarkan suara. Waktu seolah membeku pada titik transisi ini, di mana cahaya senja yang sekarat gagal menembus kabut yang merangkak naik dari permukaan air. Seiji menatap kosong ke arah tanah di sampingnya—sebuah bidang kerikil yang benar-benar bersih dan terang, tanpa ada sedikit pun siluet hitam yang memanjang di sana.
Seiji tampak seperti sebuah sketsa yang belum selesai atau karakter dari film tua yang gagal dirender sepenuhnya ke dalam dunia nyata. Tanpa bayangan di bawah kakinya, keberadaannya di tepi sungai itu terasa goyah, seolah-olah ia tidak lagi memiliki berat massa yang cukup untuk tetap berpijak di bumi. Ia terlihat transparan dalam cara yang tidak menyenangkan, sebuah entitas begitu ringan sehingga angin kencang yang berembus di sela lembah tampak bisa menghapusnya dari realitas kapan saja.