Setelah malam yang penuh dengan mimpi tentang mesin yang rusak, Arata terbangun dengan satu variabel yang sudah terkonfirmasi. Sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya—bukan dari seorang agen, melainkan dari sisa-sisa kontak masa lalunya di bagian sipil yang masih peduli. Alamat itu bukan merujuk pada sebuah rumah, melainkan pada sebuah kafe di distrik Nishi, Osaka. Kaito Juro tampaknya telah membangun hidupnya sedemikian rupa sehingga masa lalu tidak bisa langsung mengetuk pintu depannya; ia lebih memilih bertemu di ruang publik yang anonim, di mana setiap percakapan bisa segera larut dalam kebisingan kota.
Arata menempuh perjalanan menuju Osaka, membawa bayangannya yang masih compang-camping akibat irisan Taro tempo hari. Distrik Nishi menyambutnya dengan deru mesin kota yang konstan; kafe tempat Kaito berada terasa seperti gelembung kaca yang steril di tengah hiruk pikuk pusat kota yang tidak memiliki waktu untuk sejarah.
Kaito memilih kafe ini bukan karena kopinya, melainkan karena akustiknya yang mampu meredam percakapan pribadi menjadi sekadar dengung latar belakang bagi pengunjung lain. Di meja sudut yang paling jauh dari pintu, Kaito tidak duduk sendirian. Ia tampak seperti sistem yang berjalan dengan efisiensi puncak—stabil, dingin, dan fungsional. Di sampingnya, seorang wanita dengan blus linen krem sedang menyesap earl grey dengan gerakan yang efisien namun lembut, sementara seorang anak laki-laki berusia lima tahun sibuk menyusun balok magnetik di atas meja tanpa menimbulkan suara.
Hari itu adalah ulang tahun istrinya, dan Kaito merayakannya dengan cara yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang menghargai ketenangan. Tidak ada buket bunga besar; hanya sebuah kotak kecil berisi jam tangan mekanis yang detaknya sinkron dengan milik Kaito. Bagi Kaito, membiarkan Arata masuk ke dalam ruang ini adalah sebuah anomali protokol yang besar. Ia menatap Arata bukan dengan amarah, melainkan dengan tatapan seorang teknisi yang melihat sebuah perangkat yang terus-menerus memaksakan update yang merusak sistem.
Istri Kaito melirik Arata, lalu beralih ke suaminya dengan tatapan jengkel yang tidak berusaha ia sembunyikan—sebuah protes diam tentang interupsi di hari spesialnya. Matanya yang tajam seolah sedang menceramahi Kaito tentang manajemen waktu dan privasi, namun di balik kejengkelan itu, ada rasa percaya yang kokoh; ia tahu Kaito tidak akan membiarkan "kebocoran" masa lalu ini merusak sirkuit keluarga mereka lebih jauh.
Arata tidak bisa tidak memperhatikan bayangan di bawah meja itu. Berbeda dengan bayangan penduduk Osoroshio yang tipis atau menghilang, bayangan Kaito, istri, dan anaknya tampak solid, gelap, dan saling bertumpang tindih dengan wajar. Anak laki-lakinya sesekali menginjak bayangan ayahnya, dan Kaito membiarkannya—sebuah interaksi organik yang menunjukkan bahwa di dunia Kaito, kegelapan bukanlah aib yang harus dibakar, melainkan tekstur yang memberi kedalaman pada eksistensi mereka.
Saat Arata mulai bicara, istri Kaito meletakkan cangkirnya dengan denting halus yang terdengar seperti tanda titik. Ia melirik Kaito sekali lagi—tatapan cerewet yang seolah berkata, "Selesaikan ini dalam lima menit atau kau yang mencuci piring setahun"—lalu ia mencoba menarik lembut tangan anaknya.
"Ayo, sayang, kita lihat ikan di kolam depan sebentar," ajak istrinya.
Namun, anak itu bergeming. Ia memegang pinggiran meja dengan erat, matanya menatap piring kosong di depannya. "Tapi aku lapar, Bu. Aku mau tunggu pancake-nya di sini saja," gumamnya keras kepala, sambil kembali menyusun balok magnetiknya dengan gerakan sedikit kasar.