Upacara Membakar Bayangan

🕯Koo Marko✨
Chapter #22

Senter LED 6000K dan Terminal Pembuangan yang Buntu

Arata menuruni deretan tangga batu yang licin dan berlumut menuju sebuah ceruk lembap yang tersembunyi di bawah belitan akar pohon beringin raksasa. Udara di dalam ceruk itu terasa berat dan berbau seperti perpaduan antara tanah basah dan logam teroksidasi, menciptakan atmosfer klaustrofobik yang mencekam.

Di sana, sebuah sumur kuno yang bibirnya terbuat dari batu andesit kasar memancarkan hawa dingin yang ganjil—sebuah kedinginan yang terasa lebih menusuk dan "berisi" daripada angin musim gugur di luar sana.

Di samping bibir sumur, seorang wanita tua duduk meringkuk dalam balutan kain flanel kusam yang berbau seperti obat-obatan kimia dan kemenyan. Di sampingnya, sebuah senter LED modern diletakkan terbalik di atas tanah, memancarkan lingkaran cahaya putih 6000K yang tajam ke arah langit-langit gua, menciptakan bayangan akar yang tampak seperti urat-urat nadi raksasa yang sedang berdenyut dalam pendaran digital yang ofensif.

Senter itu adalah satu-satunya benda yang menghubungkan Nenek Chiyo dengan masa kini, sebuah teknologi yang mungkin dibelikan oleh orang asing yang merasa iba, bukan oleh kerabat. Cahaya 6000K yang tajam itu tidak memberikan kehangatan, persis seperti hidup Chiyo yang fungsional namun dingin.

Ia memperlakukan senter itu dengan ketelitian yang menyedihkan; mengganti baterainya dengan jemari gemetar adalah satu-satunya ritual pribadi yang ia miliki di luar menelan kegelapan orang lain. Senter itu adalah mata kedua bagi Chiyo, karena matanya sendiri sudah terlalu kabur akibat terlalu banyak melihat hitamnya bayangan manusia.

Kulit wajahnya tampak seperti perkamen yang terbakar secara perlahan, kering dan dipenuhi garis-garis dalam yang menyerupai peta wilayah yang belum pernah terjamah. Chiyo adalah sebuah terminal yang buntu. Di dinding ceruk yang lembap, tidak ada foto keluarga atau tanda-tanda kehidupan yang hangat; yang ada hanyalah deretan botol obat kimia yang labelnya sudah mengelupas.

Ia adalah gambaran seorang ibu yang rahimnya pernah menjadi awal kehidupan, namun kini tubuhnya hanya menjadi wadah akhir bagi kematian emosional orang lain. Ketidakhadiran seorang anak bukan hanya sebuah fakta biologis baginya, melainkan sebuah kekosongan proteksi. Tanpa tangan yang memijat punggungnya atau suara yang menanyakan kabarnya, Chiyo membiarkan dirinya menjadi budak dari trauma desa—satu-satunya cara agar ia merasa masih "dibutuhkan" oleh dunia yang telah melupakannya.

Waktu di sekitar Chiyo seolah-olah kehilangan sinkronisasi dengan dunia luar; tidak ada detik yang pasti, hanya ada stagnansi yang menekan. Tubuhnya bergetar hebat dengan ritme yang tidak teratur, dan dari dalam kerongkongannya terdengar suara desis pelan—seolah-olah ada ribuan suara dari orang yang berbeda sedang menjerit secara bersamaan di dalam perutnya, berebut ruang untuk keluar.

Ribuan suara desis itu adalah pengganti dari percakapan keluarga yang tidak pernah ia miliki. Karena rumahnya selalu sepi, Chiyo membiarkan jeritan-jeritan trauma orang lain mengisi ruang di dalam dadanya. Baginya, kebisingan penderitaan orang lain lebih baik daripada keheningan mutlak dari sebuah rumah yang tidak pernah dikunjungi oleh anak atau cucu.

Lihat selengkapnya