Upacara Membakar Bayangan

🕯Koo Marko✨
Chapter #23

Space Voyager Plastik dan Gravitasi Dosa yang Miring

Setelah meninggalkan sumur Chiyo, Arata melangkah menembus kesunyian jalan setapak yang membeku. Bayangan sang ayah tetap melekat erat di tumitnya, terasa lebih berat dari sebelumnya—sebuah beban yang kini ia pilih untuk tidak dibuang. Untuk kembali ke desa, ia harus menyeberangi satu-satunya jalur penghubung: jembatan gantung tua yang kini seolah tertelan oleh kabut putih dari pegunungan. Angin kencang berhembus dari arah puncak bersalju, membawa aroma logam yang tajam dan dingin yang meresap hingga ke balik jaketnya. Di ambang jembatan yang berderit itu, jarak pandangnya terputus oleh kabut, menyisakan hanya suara kayu yang beradu dan firasat yang berdenyut di bawah sadarnya.

Arata tiba di tepi jurang yang memisahkan wilayah desa dengan pegunungan bersalju yang puncaknya tertutup kabut abadi. Di depannya, sebuah jembatan gantung tua membentang—sebuah jalinan kabel baja berkarat yang dipadukan dengan papan kayu lapuk. Jembatan ini membentang di atas jurang yang seolah membelah realitas; ia bergoyang hebat dihempas angin badai yang membawa aroma dingin kematian dan bau logam tajam, menyerupai frekuensi suara statis dari televisi yang rusak. Di kejauhan, lampu-lampu peringatan di puncak pemancar sinyal ponsel berkedip merah secara ritmis, satu-satunya detak jantung modern di tengah lanskap yang tampak seperti lukisan tinta kuno yang hampir luntur.

Di tengah jembatan yang diselimuti kabut putih pekat, Arata melihat sosok yang menghentikan aliran darahnya. Sosok kecil yang tampak ringkih dan pucat—sebuah versi dirinya saat berusia tujuh tahun—sedang meringkuk ketakutan di atas papan kayu yang mulai retak. Anak itu mengenakan jaket kuning cerah, sebuah warna yang terasa asing dan terlalu hidup di tengah lanskap yang mati, seolah-olah harapan naif dari masa kanak-kanak menolak untuk menyerah pada kegelapan. Ia memegang erat sebuah robot mainan plastik "Space Voyager" murahan yang bagian tangannya sudah patah, sebuah fragmen memori yang terjebak dalam loop waktu yang menyakitkan. Arata melihat robot itu dan seketika ia teringat bau lem dan impiannya untuk menjadi astronot—keinginan untuk pergi ke tempat yang benar-benar hening, di mana bintang tidak akan berkedip karena amarah.

Lihat selengkapnya