Upacara Membakar Bayangan

🕯Koo Marko✨
Chapter #24

Lampu Taman Tenaga Surya dan Invasi Instruksi Coding DNA

Salju pertama mulai turun dengan berat di hutan pinus yang terletak tidak jauh dari gerbang Kuil Hai-no-Kage yang sunyi, namun ada yang salah dengan hukum termodinamika di tempat itu. Hutan pinus itu tampak seperti barisan tiang penyangga langit yang hitam; batang-batang pohonnya yang lurus menciptakan koridor gelap yang dipenuhi aroma tajam getah dan tanah beku. Kristal es yang menyentuh kulit Arata tidak mencair secara perlahan, melainkan menguap seketika dengan suara desis halus. Suhu di sekitar tubuhnya justru memanas secara ekstrem, seolah-olah udara di antara dahan-dahan pinus sedang dibakar oleh amarah yang selama ini tersimpan dalam bentuk energi potensial. Di dekat jalan setapak, sebuah lampu taman tenaga surya yang terpasang di batang pohon berkedip-kedip cepat sebelum akhirnya pecah dengan suara letupan elektrik yang singkat, meninggalkan Arata dalam pencahayaan yang hanya berasal dari pantulan salju pucat di antara bayangan pohon yang tajam.

Arata tersentak hebat saat tangan kanannya mendadak mengepal dengan kekuatan yang bisa meremukkan tulang, sebuah gerakan yang tidak berasal dari perintah otaknya. Ia menatap lengannya sendiri dengan ngeri; otot-ototnya mengeras dan berkedut di bawah kendali siluet hitam yang kini tidak lagi berada di tanah, melainkan telah merayap naik dan menyatu ke dalam pori-pori kulitnya. Rasanya seperti ada cairan merkuri dingin yang disuntikkan langsung ke dalam sistem sarafnya, mengambil alih fungsi motorik dan mengubah tubuhnya menjadi sebuah mesin yang dikemudikan oleh entitas asing di tengah kesunyian hutan.

Udara di antara pepohonan mulai bergetar, menciptakan distorsi visual yang mirip dengan fatamorgana di atas aspal panas, seolah-olah realitas di dalam hutan itu sedang diregangkan hingga batas maksimal. Suara geraman rendah yang sangat ia kenali—frekuensi suara ayahnya tepat sebelum sebuah ledakan kekerasan terjadi—muncul bukan dari telinga, melainkan berdentum langsung di dalam tengkoraknya. Suara itu memicu rentetan memori kekerasan yang menghantam sarafnya seperti pukulan fisik yang bertubi-tubi, membuat Arata merasakan kembali rasa asin darah dan aroma debu dari ruang tamu rumah masa kecilnya, jauh dari aroma pinus yang seharusnya ia hirup.

Lihat selengkapnya