Salju di Tohoku mulai mencair di tepian jalan, menyisakan aspal basah yang memantulkan langit kelabu pagi hari—sebuah palet warna monokromatik yang mulai disusupi oleh bintik-bintik cokelat tanah yang lembap. Udara pagi itu membawa aroma petrichor musim dingin, sebuah campuran antara es yang menguap dan mineral dari bebatuan pegunungan yang mulai tersingkap. Arata berdiri di depan meja belajar sepupunya—ruangan yang selama beberapa minggu terakhir menjadi suaka kecilnya, sebuah kompartemen statis di tengah badai emosional.
Di antara tumpukan buku teknik yang tersusun rapi dengan presisi geometris, tersandar sebuah cermin lipat plastik sederhana. Permukaan meja itu kini bersih dari lapisan debu yang sebelumnya menebal, namun Arata sengaja tidak mengubah posisi satu pun buku atau penggaris di sana; ia hanya membersihkan kotorannya, bukan identitasnya. Ia menatap dirinya di cermin itu, merapikan kerah kemejanya dengan gerakan yang presisi. Tidak ada lagi getaran di jemarinya. Di luar jendela, cahaya matahari yang pucat menyaring masuk melalui sela-sela dahan pohon yang masih gundul, menciptakan garis-garis cahaya yang jatuh di atas tumpukan kantong kertas berisi oleh-oleh—fragmen fisik yang ia siapkan sebelum kereta membawanya kembali ke hiruk-pikuk frekuensi tinggi di Tokyo.
Tujuan pertamanya adalah perpustakaan kota yang pengap, sebuah bangunan beton tua yang suhunya selalu beberapa derajat lebih dingin daripada dunia luar. Kenji masih di sana, terkubur di balik tumpukan arsip keluarga yang seolah tidak pernah berkurang, dikelilingi oleh rak kayu yang mulai melengkung karena beban sejarah. Arata meletakkan sekantong jeruk dekopon yang warnanya tampak seperti ledakan saturasi oranye di atas meja kerja Kenji yang penuh debu.
"Aku sudah selesai dengan catatan itu, Kenji-san," ucap Arata tenang. "Ternyata, tidak semua baris kode masa lalu harus dihapus. Beberapa cukup dibiarkan menjadi catatan kaki agar kita tidak tersesat lagi."
Kenji menatap jeruk-jeruk itu, lalu menyesuaikan letak kacamatanya yang sedikit miring. Pendar lampu neon di langit-langit perpustakaan berkedip pelan, menciptakan ritme yang hampir tidak terdengar. "Aromanya terlalu tajam untuk ruangan penuh kertas tua ini, Arata."
"Itulah intinya," Arata tersenyum tipis. "Agar kau ingat kalau di luar sana, waktu tidak hanya berbau debu dan penyesalan."
Langkahnya kemudian membawa Arata ke kedai teh Madame Yuki, sebuah ruang sempit yang dipenuhi uap air dan aroma herbal yang pekat. Wanita itu masih duduk di sudut yang sama, menatap uap tehnya seolah sedang membaca garis nasib dalam sirkuit cair tersebut. Arata menyodorkan sekotak kue kering mentega yang renyah dalam kemasan kaleng yang dingin.
"Terima kasih untuk tehnya tempo hari, Madame. Itu membuatku bisa merasakan pahit yang perlu," kata Arata. "Tapi sekarang, aku ingin memberikan sesuatu yang padat. Sesuatu yang bisa kau kunyah."