Upacara Pemakaman Kenangan

Syifa Fathonah
Chapter #1

Muara yang Pulang ke Hulu

Aroma teh melati hangat berpadu dengan wangi bunga sedap malam memenuhi ruang tengah. Uapnya membubung tipis, membawa keharuman lembut yang menenangkan dada Hening. Di atas meja kayu jati, sesendok madu perlahan larut, meninggalkan jejak rasa manis berlapis sedikit pahit di pangkal lidahnya saat Hening menyesap cairan emas itu. Cahaya matahari pagi merayap menembus celah tirai, melukis gumpalan debu keemasan yang menari-nari di udara.

Di sudut ruangan, keriuhan tiga putrinya menghidupkan suasana. Hanum, anak sulungnya yang kini berusia tiga puluh tahun, sibuk merapikan susunan bunga mawar putih di vas keramik. Sementara itu, Harum terus menggoda adik bungsunya, Ranum, yang sejak subuh sibuk merapikan penampilan di depan cermin berdiri.

"Jangan terus menatap cermin, Ranum. Nanti kacanya bisa retak kalau ditatap terus," seloroh Harum seraya tertawa renyah. Tangannya cekatan menyematkan tusuk sanggul di rambut adiknya.

Ranum mencibir pelan, meski kedua pipinya merona merah. "Aku cuma takut kebayanya kurang pas, Mbak Harum. Ini kan hari penting buat aku."

"Lebay. Derai nggak akan membatalkan lamarannya cuma gara-gara lipatan kainmu miring satu milimeter," timpal Hanum tanpa mengalihkan pandangan dari bunga di tangannya. Sedangkan, Ranum menggerakkan mulutnya asal mengikuti kata-kata Hanum tanpa suara karena kesal.

Hening meletakkan cangkir porselennya ke atas tatakan. Denting halus porselen beradu dengan kayu memecah obrolan kecil mereka. Hening tersenyum memperhatikan ketiga buah hatinya. Rasa bangga membuncah di dadanya membayangkan Ranum, si bungsu yang baru berusia dua puluh empat tahun di tahun 2026 ini, sebentar lagi akan menyusul kedua kakaknya melangkah ke jenjang pernikahan.

Hening sempat berbisik pelan kepada Hanum bahwa ia sangat bahagia melihat adik bungsunya bersiap melangkah ke gerbang kehidupan baru. Hanum membalas ucapan ibunya dengan senyuman lembut dan anggukan penuh pemahaman. Namun, di tengah rasa bahagia yang memenuhi hatinya, rasa lelah yang teramat sangat mendadak menyerang tubuh Hening. Persendiannya terasa lemas, kelopak matanya berat, dan kepalanya mendadak pusing luar biasa.

"Ibu mau istirahat sebentar di kamar ya," pamit Hening sambil memegangi tepi meja untuk menegakkan tubuhnya.

Hanum menoleh dengan raut cemas. "Ibu tidak apa-apa? Wajah Ibu kelihatan agak pucat."

"Cuma agak mengantuk. Nanti kalau keluarga Derai sudah sampai, panggil Ibu ya," jawab Hening berupaya tersenyum agar anak-anaknya tidak khawatir.

Lihat selengkapnya