Upacara Pemakaman Kenangan

Syifa Fathonah
Chapter #2

Lompatan Kenangan Indah

Dada Hening kempas-kempis, bagaikan baru saja melompati jurang waktu yang tak bertepi. Di sebelahnya, Rindang masih menatapnya dengan raut khawatir. Telapak tangan suaminya yang hangat menangkup jemari Hening yang terasa kaku dan dingin. Rumah kontrakan beratap seng itu terasa amat hening, hanya diselingi derit halus angin sore yang menerpa daun pintu kayu.

"Duduk dulu ya, Sayang," bisik Rindang lembut. Ia merengkuh pinggang Hening, menuntun langkah istrinya yang limbung menuju kasur kapuk tipis berselimut kain lurik di sudut kamar.

Hening menurut tanpa perlawanan. Otaknya seolah buntu, tak sanggup mencerna bagaimana dinding kontrakan tahun 1996 ini berada di sekelilingnya. Ia merebahkan diri, membiarkan punggungnya menyentuh kasur kapuk yang menebarkan aroma khas kapur barus.

"Aku ambilkan air hangat dulu," kata Rindang seraya mengecup kening Hening pelan.

Sentuhan bibir Rindang di keningnya terasa begitu nyata. Kehangatan itu memicu getaran lama yang sekian dekade terkubur di dasar dadanya. Perasaan hangat milik wanita muda yang mencintai dan dicintai mendadak bersemi kembali. Namun, saat Hening menengadah hendak membalas tatapan suaminya, sosok Rindang dan dinding kontrakan itu mendadak retak. Warnanya meluruh perlahan menyerupai kabut tipis, menarik jiwanya melayang menembus lorong waktu.

Saat Hening kembali membuka kelopak matanya, deru hujan deras yang menimpa atap seng menyapa pendengarannya. Aroma antiseptik bercampur keharuman minyak telon memenuhi ruangan serba putih yang sederhana. Hening terbaring di atas ranjang kamar bersalin milik bidan desa. Peluh masih membasahi dahinya, napasnya terengah lelah seolah telah melewati perjuangan panjang yang mempertaruhkan nyawanya.

Di sampingnya, seorang wanita paruh baya tersenyum lembut seraya menyerahkan seorang bayi yang sudah dibungkus oleh kain bedong hangat. "Selamat ya, Bu Hening. Anak pertamanya perempuan, cantik sekali."

Suara tangis bayi pecah melengking, mengudara dengan nyaring di antara deru hujan. Hening merengkuh bayi Harum ke dadanya. Pada detik itu, benak Hening seketika tersadar sepenuhnya. Jiwa dan ingatan tuanya mengenali sudut ruangan ini. Ia sadar telah kembali ke hari lahir anak pertamanya, sebuah kenangan paling bahagia saat ia resmi menjadi ibu. Air mata bahagianya meleleh seketika.

Sembari mendekap erat Harum bayi di dadanya, Hening meresapi detik demi detik kehangatan yang amat ia rindukan itu. Begitu puncak rasa syukurnya terpenuhi, suara tangis bayinya mendadak mengalun menjauh. Dinding ruangan bersalin terurai menjadi serpihan cahaya putih, membawa jiwanya melayang menuju memori berikutnya.

Serpihan cahaya itu merapat kembali saat embusan napas hangat menerpa kulit perutnya. Ketika mata Hening terbuka, ia mendapati dirinya terbaring di atas tempat tidur dengan perut yang membuncit besar pada tahun 2000. Cahaya sore menerobos celah jendela, membiaskan warna kemerahan yang menenangkan.

Langkah-langkah kecil terdengar menepuk lantai kayu. Harum kecil, yang baru berusia dua tahun lebih, merangkak naik ke kasur. Tangannya yang mungil dan gempal langsung melingkari perut Hening, menempelkan telinganya di sana.

"Ibu, Adik kapan keluar?" tanya Harum dengan bibir mengerucut manja. "Harum mau peluk Adik."

Hening mengusap rambut halus Harum dengan dada membuncah. Kesadarannya kembali mengkristal utuh. Hening sadar betul dirinya tengah terlempar ke kepingan masa lalu yang amat berharga, yaitu momen saat Harum begitu manja menantikan kehadiran adiknya.

"Sabar ya, Nak. Sebentar lagi Adik Hanum lahir," bisik Hening lembut.

Harum makin mempererat pelukannya, menyandarkan pipinya yang lembut di perut Hening. Kehangatan dekapan anak pertamanya itu terasa begitu nyata mengobati rindu. Tepat saat kepuasan batin memenuhi jiwanya, wujud Harum dan bias cahaya sore di jendela bergetar halus. Gambaran itu memudar layaknya lukisan cat air yang disapu air, melepaskan kesadaran Hening dari ruang tersebut.

Dunia kembali terbentuk di dalam ruang tamu rumah mereka yang dipenuhi hangatnya pendar lampu gantung. Suara gumaman doa dan aroma teh manis menandai selesainya acara syukuran serta aqiqah atas kelahiran Hanum secara sederhana. Bayi Hanum terbaring lelap di atas kasur berenda. Harum yang kini berusia tiga tahun berdiri berjingkat di samping tempat tidur.

Harum menunduk, mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pipi bayi Hanum hingga pipi adiknya berkilat basah oleh air liur.

Lihat selengkapnya