Upacara Pemakaman Kenangan

Syifa Fathonah
Chapter #3

Pusaran Kenangan Tanpa Muara

Pendar cahaya keemasan yang tersisa dari ingatan di arena permainan tahun 2010 itu perlahan mencair, membuai jiwa Hening melintasi aliran waktu yang kian hangat. Tidak ada lagi rasa panik yang meremas dadanya. Jiwa tuanya kini berserah penuh, bersiap menikmati setiap kepingan masa lalu sewaktu anak-anaknya beranjak remaja dan dewasa.

Aroma melati bercampur wangi bunga mawar merebak lembut saat kesadaran Hening kembali terkumpul. Dari lelap yang tenang, matanya terbuka di atas sofa ruang tamu yang dihiasi tirai kain berenda. Di hadapannya, Hanum, putri sulungnya, tampak begitu anggun dalam balutan kebaya brokat berwarna krem. Di seberang meja kayu, keluarga calon mempelai pria duduk berderet penuh ketakziman. Suasana hangat meliputi ruangan ketika sang calon menantu mengutarakan niat baiknya untuk meminang Hanum.

Hanum menunduk malu dengan pipi merona merah. Ia memilin ujung selendangnya sebentar sebelum mendongak menatap Hening, meminta ketetapan hati. "Ibu, Hanum mau menerima lamaran Mas Rimbun."

Seketika jiwa Hening tersadar sepenuhnya. Benaknya mengenali detik-detik berharga ini. Ia sadar telah dibawa kembali ke hari lamaran putri sulungnya, hari ketika anak pertamanya mulai mengepakkan sayap untuk membangun keluarganya sendiri. Rasa bangga dan haru yang dulu pernah memenuhi dadanya kini bersemi utuh kembali. Saat Hening menyunggingkan senyum merestui, gemuruh tepuk tangan kebahagiaan di ruangan itu perlahan membisu, meluruh dalam kehangatan lelap yang membawa jiwanya melayang kembali.

Pendar cahaya merapat kembali di sebuah gedung pernikahan yang dipenuhi dekorasi serba putih. Suara lantunan ayat suci mengalun merdu, disusul suara tegas calon suami Hanum yang menguapkan kalimat ijab kabul dalam satu helaan napas panjang.

"Sah!" seru para saksi bergantian, memecah ketegangan.

Hanum, yang tampil memesona bagaikan ratu dalam balutan kebaya pengantin putih, melangkah mendekati Hening. Ia berlutut di hadapan ibunya, melakukan prosesi sungkem. Hanum memeluk lutut Hening erat-erat, menumpahkan air mata bahagianya.

"Ibu, terima kasih sudah merawat dan membesarkan Hanum sampai hari ini," bisik Hanum dengan suara parau yang bergetar.

Hening merengkuh bahu putri sulungnya, mengusap punggung kaku itu penuh kelembutan. Kesadarannya mekar sempurna. Hening sadar betul ia sedang mengulang momen sakral saat ia melepas Hanum menjadi seorang istri. Perasaan lega dan syukur tiada tara membanjiri relung jiwanya. Tepat saat ia mencium dahi Hanum dan memejamkan mata, wujud pengantin dan keriuhan pesta meluruh lembut menjadi kabut keemasan.

Kabut keemasan itu terurai saat suara keluhan halus terdengar di sudut ruang keluarga. Hening mendapati dirinya terbangun di atas sofa, sementara Hanum berbaring di sampingnya dengan kepala bersandar nyaman di pangkuan Hening. Perut Hanum tampak membuncit indah di balik gaun terusan yang longgar.

Hanum mengusap perutnya yang kian membesar, lalu mendongak manja. "Ibu, mualnya masih sering terasa. Dulu waktu mengandung Hanum, Ibu suka mual juga ya?"

Hening tersenyum, tangannya tak berhenti mengusap lembut rambut putri sulungnya, mengalirkan rasa tenang. Jiwa Hening tersentak penuh kesadaran. Ia tahu ia telah kembali ke masa-masa indah saat Hanum sedang mengandung cucu pertamanya. Kenangan manis saat ia mendampingi putrinya melewati gerbang menjadi seorang ibu kini hadir kembali, mengobati rasa rindunya akan perasaan ini.

Saat Hanum tersenyum tenang dan ikut memejamkan mata di pangkuannya, suasana hangat di ruang keluarga itu mengabur perlahan, melayang dalam buaian lelap yang membawa jiwa Hening pergi.

Aroma khas antiseptik ruang perawatan rumah sakit menyapa indra penciumannya saat mata Hening kembali terbuka. Ia berdiri di samping ranjang bersalin. Di atas tempat tidur, Hanum tampak lelah tetapi memancarkan binar kebahagiaan yang teramat murni. Di pelukan Hanum, sesosok bayi mungil terbungkus kain bedong merah jambu tertidur lelap.

"Ibu, lihat! Cucu pertama Ibu cantik sekali," bisik Hanum seraya menyerahkan bayi itu ke dalam dekapan Hening.

Hening merengkuh tubuh mungil cucu pertamanya. Seketika jiwanya terenyuh hebat. Hening sadar sepenuhnya bahwa ia sedang berada di detik-detik berharga saat statusnya berganti menjadi seorang nenek. Perasaan bahagia yang begitu megah saat melihat keajaiban kehidupan berlanjut ke generasi berikutnya membuat air mata harunya menetes. Begitu jemari mungil sang bayi menggenggam telunjuknya, Hening tersenyum dan memejamkan mata, membiarkan bayangan rumah sakit itu perlahan meluruh.

Lihat selengkapnya