Cangkir seng di genggaman Hening berguncang hebat. Uap air hangat yang membubung tipis menyapu wajahnya, tetapi gagal mengusir rasa dingin yang menjalar hingga melumpuhkan sendi-sendi jemarinya. Di sekelilingnya, dinding semen yang berdebu dan aroma kental kapur barus dari lemari kayu tua menegaskan kenyataan pahit bahwa ia telah terlempar kembali ke tahun 1996, lagi.
Hening mendongak, menatap lekat paras Rindang yang berlutut di tepi kasur kapuk. Wajah suaminya begitu licin tanpa kerut, memancarkan ketampanan pemuda dua puluh delapan tahun di bawah pendar remang lampu minyak. Tatapan itu terasa asing sekaligus menyiksa.
"Mas, tolong dengarkan aku. Ada yang tidak beres dengan semua ini," suara Hening tercekat, memburu bersama napasnya yang tidak teratur. Jemari kirinya mencengkeram kuat lengan kemeja Rindang, menuntut perhatian penuh. "Dunia ini berputar terlalu cepat. Aku baru saja berada di tahun 2026, Mas! Aku melihat Hanum menikah, Harum melahirkan, dan Ranum... Ranum sedang lamaran! Kenapa aku terus dilempar melompati puluhan tahun lalu ditarik paksa kembali ke sini?"
Rindang tertegun sejenak. Manik matanya menatap Hening dengan binar heran yang lambat laun berganti menjadi iba. Sebuah tawa kecil yang terdengar sangat tenang terlepas dari bibirnya. Ia melepaskan genggaman Hening pada lengannya, lalu merengkuh kedua tangan istrinya dengan kehangatan yang terasa patronizing, seolah sedang membujuk anak kecil yang merajuk.
"Kamu ini bicara apa, Sayang? Mengada-ada saja," tutur Rindang lembut. Ibu jarinya mengusap lembut pelipis Hening, menyapu bulir keringat dingin yang membasahi dahi istrinya. "Kamu itu cuma kelelahan karena sedang hamil muda. Kamu pasti habis mimpi buruk, kan? Kata Bidan Lastri kemarin, kandungan yang masih berusia beberapa minggu memang sering membuat pikiran jadi kacau dan mimpi terasa sangat nyata. Hormonmu sedang tidak stabil."
Kalimat itu menghantam dada Hening bagaikan gumpalan es yang membekukan darahnya. Penjelasan rasional yang dilontarkan Rindang terasa seperti hinaan bagi dirinya yang telah mengarungi rentang waktu puluhan tahun. Rasa terisolasi teramat sangat menyergapnya menyadari bahwa tidak ada yang paham bahwa jiwanya sedang disiksa oleh pusaran waktu.
Amarah yang teramat mendidih mendadak membakar dadanya, memusnahkan rasa rindu yang semula memenuhi relung jiwanya. "Ini bukan mimpi! Ini bukan bawaan bayi!" jerit Hening dengan nada melengking yang memecah kesunyian.
Dalam dorongan emosi yang meluap, Hening mengibaskan tangannya dengan kasar. Cangkir seng di genggamannya terpelanting melayang, menumpahkan air hangat ke atas selimut lurik sebelum mendarat dengan benturan nyaring yang bertubi-tubi di atas lantai semen.
"Keluar dulu, Mas! Keluar!" histeris Hening, matanya membelalak penuh derita dan kejengkelan yang tidak tertahan. "Aku mau sendiri! Pergi!"