Upacara Pemakaman Kenangan

Syifa Fathonah
Chapter #5

Seteguk Air Keran, Sepiring Intip Garam

Dengan dompet beludru kuning terdekap erat di dada, Hening melangkah menuju pintu depan rumah kontraka. Namun, baru saja telapak kakinya menapak ambang pintu, semesta di sekelilingnya bergeser perlahan. Bau kapur barus dan uap air hangat meluruh, berganti aroma tanah basah seusai hujan bercampur jelaga kayu bakar dari dapur tua. Dinding semen retak lenyap sepenuhnya, berganti halaman tanah berdebu bertembok papan kayu yang amat dihafalnya.

Hening terpaku di sudut pekarangan. Ia mendapati dirinya hadir bagaikan roh tak kasatmata yang tak teraba. Di hadapannya, seorang anak perempuan berusia tujuh tahun berpakaian lusuh dengan rambut dikuncir dua sedang menuntun langkah menuju pintu gerbang. Di sampingnya, Kadung, abang sulungnya yang selalu pasang badan melindungi adik-adiknya, sedang menuntun sepeda tua bertumpuk keranjang.

"Mau ke pelabuhan lagi, Nong?" tanya Kadung seraya menatap adiknya dengan sorot mata yang sarat rasa iba.

Raga mungil itu mengangguk pelan, membawa selembar foto usang berbayang pudar di genggamannya. Jiwa tua Hening merinding hebat. Ia menyadari sepenuhnya bahwa gulungan kenangan pertama dari ingatan paling membekas dalam hidupnya resmi berputar kembali di depan matanya.

Hening tua melangkah tak berjejak mengekor raga kecilnya yang berjalan menyusuri jalan setapak tanah menuju Pelabuhan Merak. Dari dalam ingatan yang terhampar di udara, terngiang kembali bentang dialog yang dulu saban bulan selalu ia bisikkan kepada sang Ibu, Kuntum.

"Bu, Bapak kapan pulang?"

Suara mungil itu bergema di relung benaknya, disusul kehangatan suara Ibunya yang tak pernah berubah. "Bulan depan, Nong. Kalau mau menyambut Bapak, tunggu di pelabuhan."

Dermaga Merak begitu bising dan riuh. Deru mesin kapal motor bersaut-sautan dengan teriakan para pedagang asongan. Angin laut yang amis dan sarat garam mengibarkan rambut kusam Hening kecil yang duduk termenung di atas balok kayu tua. Di sekelilingnya, anak-anak sebaya bersorak girang saat rombongan pekerja dari pulau seberang melangkah turun, menyambut dekap hangat bapak mereka masing-masing. Hanya Hening kecil yang gigih memegang foto usang milik Randu, sosok bapak yang tak pernah ia lihat wujud aslinya secara nyata.

Mata Hening mengembun ketika menyaksikan betapa mekar binar di wajah kecilnya saat seorang lelaki paruh baya melangkah turun dari tangga kapal. Wajah lelaki itu sangat mirip dengan sosok di lembaran foto.

"Bapak!" panggil Hening kecil seraya berlari kencang menghampiri.

Lelaki itu menoleh dan merentangkan kedua tangannya. Namun, sebelum Hening kecil sempat melompat ke dekapannya, seorang anak perempuan berambut panjang bernama Sukma lebih dulu berlari dan memeluk lelaki tersebut. Hening kecil yang tersengat cemburu segera menarik pakaian anak itu dengan gusar.

"Lepas pelukanmu! Bapak ini Bapak saya!" jerit Hening kecil, matanya memerah menahan tangis yang mendesak keluar.

Sukma menepis tangan kecil itu dengan wajah masam. "Kamu siapa datang-datang mengaku bapak orang?"

"Saya tidak mengaku-ngaku! Bapak ini persis foto Bapak saya!" balas Hening kecil seraya menyodorkan foto lusuh di tangannya dengan jemari yang gemetar.

Lelaki bernama Pak Jati itu tertegun, mengamati foto tua tersebut sebelum menghela napas panjang berbeban berat. "Bapakmu namanya Randu, bukan?"

Hening kecil mengangguk cepat. "Iya! Randu!"

Lihat selengkapnya