Upacara Pemakaman Kenangan

Syifa Fathonah
Chapter #6

Bait-Bait Rumah

Gulungan kenangan ketiga pun membentang anggun. Heningmenyaksikan raga mudanya berdiri kaku di sudut ruang tamu yang temaram. Di jemari Hening muda, selembar kertas pendaftaran perguruan tinggi bergetar pelan. Matanya menatap lantai, menahan sekuat tenaga gumpalan hangat yang mendesak di pangkal tenggorokannya, sebab ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak meneteskan air mata di depan keluarga.

"Nong tidak usah kuliah, Kang," ucap Hening muda dengan suara teratur meski ada getar tipis di sana. "Nong tahu biaya kuliah tidak sedikit. Lebih baik Nong kerja, membantu Akang dan Ibu."

Kadung melangkah mendekat seraya menatap adiknya. Tangan kakaknya yang kasar oleh kerja keras hinggap di kedua pundak Hening muda. Sorot mata Kadung tampak lelah, tetapi menyimpan keteguhan yang tidak bisa ditawar.

"Nggak, Nong," potong Kadung tegas. "Akang dan Teteh memang hanya bisa sekolah sampai sekolah menengah karena keadaan. Namun, kamu punya cita-cita jadi guru. Salah satu anak Ibu harus ada yang memegang ijazah tinggi, Nong. Soal biaya, itu urusan Akang. Kamu hanya perlu belajar."

Hening muda mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menelan rasa haru yang mengendap di dadanya. Tanpa meneteskan sebutir air mata pun di hadapan sang kakak, ia mengangguk pelan menerima keputusan tersebut. Latar berpindah ke lorong dan ruang kuliah yang dingin oleh deru angin luar. Teman-teman seangkatan Hening dengan mudah membuka tumpukan buku paket tebal yang bersampul licin dan beraroma mesin cetak baru. Sementara itu, Hening muda hanya memegang satu buku catatan tipis.

Tidak ada simpanan uang untuk membeli buku-buku mahal tersebut. Oleh karena itu, setiap kali jam perkuliahan usai, ia menunggu di dekat pintu, lalu menghampiri teman-temannya untuk meminjam buku. "Boleh aku pinjam bukumu sebentar? Cuma untuk menyalin bagian yang penting."

Di meja kayu kelas yang senyap, jemari Hening menggoreskan pena tanpa henti. Tulang pergelangan tangannya kerap pegal dan kaku saat menyalin lembar demi lembar bab, tetapi kenangan akan jemari Kadung yang kasar selalu menguatkan jemarinya sendiri. Latar kota membendung pemandangan dengan hawa menyengat. Terik siang membakar atap bus kota yang berderak menembus kemacetan, sementara udara pengap oleh peluh dan jelaga knalpot.

Hening muda berdiri berdesakan, jemarinya memutih menggenggam tiang besi yang dingin. Di barisan kursi, seorang pemuda duduk dengan wajah lelah, mengenakan kemeja yang agak kusut selepas jam kerja panjang. Memperhatikan Hening yang bersusah payah menjaga keseimbangan seraya menjinjing tas kain berisi salinan catatan, pemuda itu berdiri dari duduknya.

"Duduk di sini saja, Mbak," ujarnya seraya menepuk pelan sandaran kursi kayu.

Hening muda tertegun sejenak sebelum mengangguk pelan. "Terima kasih banyak."

Beberapa hari berselang, takdir mempertemukan mereka kembali di rute bus yang sama. Udara sore lebih lengang, dan angin dari luar jendela mengibarkan helai rambut Hening yang duduk di barisan tengah. Pemuda itu naik, lalu mengambil tempat kosong tepat di samping Hening.

"Masih ingat saya?" tanyanya seraya tersenyum tipis setelah beberapa saat mereka terdiam dan saling mencuri pandang.

Lihat selengkapnya