Pusaran waktu kembali berputar, gulungan memori membentang, membawanya ke ruang tengah rumah kecil yang sarat doa. Di sana, Hening dan Rindang menanti hadirnya buah hati yang tak kunjung tiba. Harapan akan munculnya dua garis merah pada alat tes kehamilan kerap berujung senyap. Setiap pagi, Hening menyeduh cangkir jamu penyubur yang pekat. Rindang duduk mendampingi, mengusap lembut jemari sang istri saat cairan pahit itu membasahi tenggorokan.
Kesabaran itu akhirnya berbuah manis saat tanda kehamilan yang dinanti benar-benar terukir jelas. Desir bahagia memenuhi dada Hening ketika perutnya perlahan membuncit seiring berjalannya bulan. Ia menikmati setiap getaran halus dari dalam rahimnya seraya memanjatkan syukur.
Ketika usia kandungan menginjak sembilan bulan, peristiwa tak terduga datang menyapa di tengah malam. Cairan hangat mengalir basah menembus kain di sela paha Hening saat ia terlelap. Mengira rembesan itu hanyalah air kencing biasa, ia menahan mulas yang diam-diam menyengat pinggangnya tanpa memberitahu Rindang. Hening memang sosok yang tidak pernah mengeluh meski didera nyeri hebat. Ketidaktahuannya menutup kenyataan bahwa cairan kehidupan sang bayi telah bocor lebih awal.
Keesokan harinya, proses persalinan berlangsung di bawah kepungan ketegangan yang mencekat dada. Hening berjuang mempertaruhkan nyawa melahirkan buah hati pertamanya. Namun, ketika tubuh mungil itu berhasil keluar, tidak ada suara tangisan yang memecah keheningan kamar. Bayi mereka mengembuskan napas terakhir akibat keracunan air ketuban yang terlalu lama keruh di dalam kandungan. Kenyataan pahit itu menghantam dada Rindang dan Hening hingga ruang jiwa mereka terasa hampa. Meski duka membakar dada, keduanya memilih membatu tanpa meneteskan sebutir air mata pun di hadapan satu sama lain.
Prosesi pemakaman sang bayi digelar pada hari yang sama dengan suasana duka yang sunyi. Hening dilarang ikut melangkah ke pemakaman karena kondisi fisiknya yang amat lemah. Ia hanya terbaring kaku di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar dengan dada yang serasa terhimpit batu tebal.
Genap satu bulan berlalu, Hening akhirnya menguatkan fisik dan mentalnya untuk mendatangi makam sang anak. Langkah kakinya perlahan mendekati deretan gundukan tanah merah di bawah naungan pohon tua. Rindang berjalan di sampingnya, menjaga setiap pijakan sang istri yang masih tampak rapuh.
Langkah Hening terhenti mendadak saat pandangannya menancap pada makam buah hatinya. Gundukan tanah yang masih basah itu tampak polos tanpa adanya papan kayu atau batu nisan. Rasa gusar memancing tangannya bergerak mencengkeram lengan baju Rindang.
"Kenapa tidak ada nisan di sini, Mas? Kenapa cuma tanah polos begini?" tuntut Hening muda dengan suara bergetar hebat.
Rindang menarik napas panjang seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Matanya yang sembap menatap gundukan tanah basah di bawah pijakan kaki mereka dengan keheningan yang menyiksa.
"Aku nggak sanggup, Nong... Aku nggak sanggup melihat nama dan tanggal lahirnya terukir di nisan," bisik Rindang dengan suara serak yang akhirnya pecah.