Upacara Pemakaman Kenangan

Syifa Fathonah
Chapter #8

Penyesalan yang Bernapas

Di ruang tengah yang hening, sinar matahari sore menembus celah gorden, membiarkan pendar keemasan jatuh menyirami lantai kayu. Hanum duduk di sofa, jemari tangan kirinya refleks menarik ujung baju lengan panjang yang membalut lengan kanannya. Sebuah kebiasaan lama yang mengakar sejak kecil, bentuk pertahanan diri agar bentuk lengan kanannya yang membesar akibat tumor tidak terlihat oleh orang lain. Bahkan sejak masuk TK, ketika teman-temannya mengenakan seragam lengan pendek, Hanum selalu mengenakan seragam sekolah berlengan panjang.

Iris, putri sulungnya, memperhatikan gerak-gerik itu dari samping. Ia mendekat, melingkarkan lengannya di bahu sang ibu. "Mama mau tahu rahasia tentang Oma, enggak?" tanya Iris.

Hanum menoleh, menghentikan usapan pada kain bajunya. Matanya menatap Iris dengan binar penasaran. "Rahasia apa tentang Oma?"

Iris tersenyum tipis. Sorot matanya menerawang, mengenang kembali momen saat ia duduk bersandar di samping Oma Hening. "Waktu itu, Iris pernah iseng tanya ke Oma tentang penyesalan terbesar Oma selama hidup. Oma sempat terdiam lama, lalu berbisik ke Iris kalau Oma punya tiga penyesalan terbesar."

Iris jeda sejenak, menatap lekat raut wajah ibunya. "Coba Mama tebak, dari tiga penyesalan itu, yang pertama apa?"

Hanum menghela napas pelan. Ingatan akan cerita duka keluarga melintas di benaknya. "Kayaknya penyesalan pertama Oma itu waktu Oma cuma diam saja pas air ketubannya pecah dulu, kan? Oma pasti merasa bersalah karena kakak pertama Mama meninggal di dalam kandungan akibat keracunan air ketuban."

Iris menggeleng perlahan. Tangan kirinya terulur, merengkuh lembut lengan kanan Hanum. "Bukan, Ma. Kata Oma, kejadian itu memang membawa duka yang sangat dalam. Tapi, itu enggak masuk ke dalam tiga besar penyesalan hidupnya."

Hanum mengerutkan kening. "Kenapa bukan?"

"Sebab kata Oma," bisik Iris dengan mata yang mulai berkaca-kaca, "anak yang sudah meninggal enggak akan pernah merasakan penderitaan selama hidup di dunia. Dia sudah tenang di alam sana."

Iris menahan napasnya yang mulai berat, berjuang keras menahan sesak di tenggorokannya. "Penyesalan pertama Oma justru adalah ketika Oma langsung hamil lagi padahal baru saja selesai nifas dari kehamilan pertama itu."

Kata-kata itu membuat dada Hanum berdesir hebat.

Lihat selengkapnya