Usai duka dari kenangan ketujuh terserap habis ke dalam botol kaca, keheningan di ruang hampa perlahan melunak. Pendar cahaya kedelapan merekah pelan di udara, memancarkan warna yang begitu cantik, perpaduan jingga keemasan dan merah muda yang berkilau lembut, membawanya melintasi waktu menuju tahun 2000.
Suasana dingin mendadak sirna, berganti aroma kamar yang sangat familier, yaitu campuran minyak telon, bedak bayi, kayu tua, dan wangi teh hangat. Pada awalnya, kenangan tersebut menunjukkan hari-hari Hening yang terasa teramat melelahkan karena harus membagi waktu antara mengajar dan mengantar Hanum kontrol ke rumah sakit. Karena badannya terasa pegal dan lunglai, Hening memanggil Mbok, tukang urut berlangganan ke rumah.
Saat jemari Mbok perlahan memijat dan mengurut lembut bagian perut Hening, gerakan tangan tua itu mendadak terhenti. Mbok urut meraba perlahan area perut bawah itu sejenak sebelum akhirnya bersuara. "Bu, sepertinya Ibu pegal-pegal bukan karena capek. Ini uratnya beda, perutnya juga mulai keras. Coba diperiksakan ke bidan atau dokter, kayaknya Ibu lagi isi ini."
Tebakan itu terbukti benar. Kehamilan anak kedua pun dimulai. Saat usia kandungan kian membesar, hasil pemeriksaan USG menunjukkan bahwa bayi di dalam perutnya berjenis kelamin laki-laki. kabar bahagia itu menyulut haru yang luar biasa. Dengan perasaan campur aduk antara bahagia dan bayang-bayang duka masa lalu, Hening dan Rindang bersama-sama membuka kembali lemari kayu di kamar mereka.
Di dalam lemari itu, tersimpan rapi pakaian dan perlengkapan bayi laki-laki yang dulu pernah mereka beli untuk anak pertama mereka yang sudah berpulang sebelum sempat bernapas dan menangis. Barang-barang itu selama ini hanya tersimpan bisu dan tak pernah sempat dipakai. Melihat baju-baju mungil itu kini memiliki harapan baru untuk dikenakan oleh calon adik Hanum.
Dalam kepingan kenangan yang terasa berjalan dengan sangat cepat, Hening muda terbaring di atas tempat tidur dengan perut yang membuncit besar. Cahaya sore menerobos celah jendela, membiaskan warna kemerahan yang menenangkan di seluruh sudut ruangan.Langkah-langkah kecil terdengar menepuk lantai kayu dengan irama yang riang. Hanum yang baru berusia tiga tahun, merangkak naik ke kasur dengan baju lengan panjangnya. Tangannya yang mungil dan gempal langsung melingkari perut Hening, menempelkan telinganya di sana dengan wajah berbinar polos.
"Ibu, Adik kapan keluar?" tanya Hanum dengan bibir mengerucut manja. "Hanum mau peluk Adik."
Hening mengusap rambut halus Hanum dengan dada membuncah, tersenyum teduh menatap putri pertamanya itu. "Sabar ya, Nak. Sebentar lagi Adik lahir," bisik Hening lembut. "Nanti Hanum bantu Ibu jaga Adik, ya?"
"Iya! Hanum mau cium Adik paling pertama!" seru Hanum dengan tawa renyah.