Cahaya kembali memancar dengan lembut, menarik jiwa Hening tua melintasi lorong waktu. Membawa sebuah kenangan tentang perjuangan panjang menyembuhkan Hanum kecil. Hening dan Rindang pernah mengupayakan pengobatan rawat jalan di Jakarta. Menggunakan mobil milik saudara Rindang, mereka harus menempuh perjalanan jauh bolak-balik dari Cilegon ke Jakarta. Setiap kali kendaraan tengah melintasi jalan sekitar Bundaran HI, tangis Hanum kecil akan pecah seketika. Bocah itu sudah hafal penanda lokasi tersebut, ia paham betul bahwa patung di Bundaran HI adalah tanda bahwa sebentar lagi ia akan tiba di rumah sakit dan jarum suntik yang menakutkan akan kembali menembus kulit kecilnya.
Tak hanya jalur medis, berbagai pengobatan alternatif dan obat herbal pun dicoba demi mengecilkan tumor di tubuh Hanum, tetapi tak satu pun mempan. Hingga saat sebulan sebelum Hanum masuk TK, ia selalu menangis dan menolak keras setiap kali disodori obat herbal yang pahit. Melihat putrinya yang terus tersiksa dan lelah berobat, rasa kasihan melumpuhkan keteguhan Hening. Ia akhirnya memutuskan untuk menunda seluruh pengobatan demi memberi ketenangan pada Hanum.
Hari-hari terasa kian berat bagi Hening karena Rindang masih tertahan bekerja di Serang dan belum bisa pulang ke rumah. Suatu hari, Hanum kecil mendongak menatap ibunya dengan raut polos seraya mengerucutkan bibir.
"Ibu, kapan Bapak pulang?" tanya Hanum dengan mata membulat. "Bapak kayak lagu Bang Toyib ya, enggak pulang-pulang?"
Hening berjongkok di hadapan putrinya, mengusap lembut pipi gempal Hanum seraya meredam rasa rindu yang sama. "Bapak kan lagi kerja di Serang, Nak. Lagi cari rezeki untuk Hanum dan Adik," sahut Hening.
"Tapi Bang Toyib di lagu itu enggak pulang-pulang, Bu. Bapak nanti lupa jalan pulang enggak?" celoteh Hanum lagi.
Hening terkekeh pelan, lalu berbisik seraya merengkuh tubuh mungil itu, "Enggak, Sayang. Bapak pasti ingat jalan pulang karena di rumah ada Hanum sama Ibu yang nungguin. Doakan Bapak ya biar cepat selesai kerjanya?"
"Iya, Ibu. Nanti Hanum doakan Bapak cepat pulang bawa boneka," balas Hanum.
Waktu kemudian berputar memperlihatkan kepingan hari lain yang begitu membekas. Hening berdiri di depan gerbang sebuah sekolah TK. Ia mengenakan seragam cokelat guru SD yang rapi, memegang tas mengajar di tangan kiri dan menggenggam jemari mungil Harum di tangan kanan.
Hari itu yang adalah hari pertama Harum masuk sekolah TK. Harum menatap deretan mainan dengan mata berbinar, tetapi jemarinya mencengkeram rok seragam cokelat Hening dengan amat erat. Hening berjongkok, merapikan kerah baju Harum. "Anak pintar, masuk kelas ya? Belajar sama Bu Guru."
Harum mendongak dengan mata berkaca-kaca. "Ibu nggak tungguin Harum di luar seperti mamanya Tegar?"