Upacara Pemakaman Kenangan

Syifa Fathonah
Chapter #11

Pijar Malam dan Nyanyian Samudra

Sebelum dingin sempat merayapi keheningan, pendar keemasan meletup ceria di tengah hampa, memuntahkan aroma debu jalanan dan deru mesin yang amat dihafalnya. Cahaya kedua belas itu menarik jiwa Hening pada rangkaian tiga malam paling hangat yang pernah singgah di dalam rumah mereka, tatkala kepulangan Rindang menjelma perayaan paling dinanti seiri rumah kala itu.

Malam pertama ditandai oleh ketukan ganda mesin motor Rindang yang membelah keheningan halaman rumah. Sebelum standar besi diturunkan, derap langkah kaki Hanum dan Harum sudah berebut menembus pintu depan.

"Bapak pulang!" seru kedua bocah itu bersahut-sahutan dengan wajah berseri-seri.

Rindang menyunggingkan senyum lelah, membiarkan dua pasang lengan kecil melingkari lehernya seraya melepaskan tas kain yang sarat debu jalanan. Ia berjongkok, merengkuh kedua putrinya, lalu merogoh bagian dalam tas dengan raut misterius. Dari sana, ia mengeluarkan dua boneka kelinci merah muda berbulu halus.

"Lihat, Bapak bawa apa buat Mbak Hanum sama Adik," ujar Rindang dengan suara serak yang hangat.

"Wah, kelinci pink!" Harum meloncat-loncat riang, menyambar bonekanya lalu memeluknya erat-erat hingga wajah mungilnya hampir tertutup bulu lembut.

Hanum meraba telinga panjang boneka itu, menempelkannya ke pipi dengan binar takjub di matanya. "Terima kasih banyak, Bapak. Bonekanya lucu sekali, persis seperti kelinci di buku cerita Hanum."

Di ambang pintu, Hening berdiri menyandarkan bahu pada bingkai kayu. Segala beban kekhawatiran yang mengendap seharian luluh seketika melihat senyum suami dan anak-anaknya. "Alhamdulillah, Bapak selamat sampai rumah."

Rindang menengadah, mengunci tatap pada istrinya dengan binar teduh. "Iya, Bu. Akhirnya bisa pulang dan kumpul lagi."

Malam kedua menjelma panggung kebahagiaan di halaman rumah yang rata oleh tanah. Rindang menyulut kembang api kawat yang dibelinya sewaktu mampir ke pasar kota.

"Bapak, nyalakan punya Hanum duluan!" pinta Hanum seraya menjinjitkan kaki, menatap ujung kawat dengan tak sabar.

"Punya Harum juga, Pak! Yang nyalanya paling terang dan banyak percikannya!" rengek Harum tak mau kalah gemas.

Percikan api keemasan meletup-letup riang, menari anggun di ujung kawat. Bau belerang tipis beradu dengan wangi tanah tatkala kedua bocah itu mengayunkan kawat berapi, menorehkan lingkaran-lingkaran cahaya menawan di udara pekat.

"Hati-hati ya. Jangan dekat-dekat," ingat Hening dari atas teras, matanya tak lelah mengawasi tiap gerak jemari mungil mereka.

Hanum tertawa renyah, melambaikan kembang apinya tinggi-tinggi. "Iya, Ibu! Lihat deh, Hanum bisa bikin huruf H di udara!"

Lihat selengkapnya