Upacara Pemakaman Kenangan

Syifa Fathonah
Chapter #12

Dua Ruang Perjuangan

Aroma gurih kaldu sapi beradu dengan kecutnya cuka dan renyahnya irisan seledri mendadak merebak di udara. Pendar ungu berpadu seburat merah violet mekar perlahan, membimbing jiwa Hening melangkah masuk ke dalam lorong kenangan keempat belas. Sore itu, Hening sibuk memutar sendok di mangkuk bakso gerobak Pakde yang biasa melintas di depan rumah. Lidahnya yang biasa pantang menyentuh rasa asam, mendadak begitu bernafsu mereguk kuah berselera pedas cuka. Hening menyangka tubuhnya hanya sedang lelah dan butuh penyegar.

"Tumben makan bakso cukanya banyak betul, Bu? Biasanya dicium dari jauh saja sudah bikin mual," celetuk Rindang sore itu sewaktu baru saja pulang dari Serang, meletakkan tas kainnya di atas meja.

Hening mengusap bibirnya dengan tisu lalu tertawa kecil. "Entahlah, Pak. Beberapa hari ini kalau tidak kena kuah asam rasanya kurang pas."

Baru saja selesai menghabiskan semangkuk bakso, Hening tersentak tatkala tak sengaja melirik kalender dinding di dapur. Dua bulan sudah ia tak menyapa datang bulan. Ingatannya melayang pada suatu malam dua bulan lalu. "Aduh, Pak. Ibu lupa minum pil KB dua bulan lalu," bisik Hening cemas sewaktu memberi tahu suaminya di kamar.

Tak menunggu lama, pemeriksaan ke bidan desa membenarkan sangkaan itu. Ketukan halus di perut dan alat periksa sederhana memastikan ada denyut kehidupan baru yang sedang bertunas di rahimnya. Namun, kehamilan ketiga ini menguji ketabahan Hening. Memasuki usia kandungan tujuh bulan pada pertengahan tahun 2008, dokter kandungan di kota menghela napas seusai mengusapkan alat pemindai di atas perut Hening.

"Posisi bayinya sungsang, Bu," terang dokter seraya menunjuk gambar hitam-putih di layar monitor. "Kepalanya masih tertahan di atas, sementara bokongnya mengunci panggul."

Hening menatap layar dengan dada berdebar. "Masih bisa berputar kan, Dok?"

"Masih ada waktu. Coba rajin bersujud posisi knee-chest ya, dadanya menempel di kasur. Di rumah, sempatkan mengepel lantai pakai kain basah sambil merangkak. Jalan pagi tanpa alas kaki dan sering-sering tempelkan senter ke perut bawah supaya bayinya mau memutar ikuti cahaya."

Sebab Rindang bertugas di Serang dan hanya pulang sebulan sekali, Hening menjalani seluruh petunjuk itu sendirian bersama kedua putrinya. Setiap pagi, dengan perut yang kian membuncit, Hening berlutut di atas ubin dingin. Napasnya memburu tatkala menyapu kain lap basah dari sudut ke sudut ruangan.

Hanum yang baru berusia empat tahun memperhatikan gerak ibunya dari atas sofa dengan dahi berkerut. "Ibu kok mengepelnya merangkak begitu?"

Hening menghentikan usapannya sejenak, menyapu peluh di dahi dengan punggung tangan. "Supaya Adik Bayi di dalam perut Ibu mau memutar kepalanya ke bawah, Nak."

Harum yang baru pandai berjalan justru mengikutinya merangkak di samping, membuat Hening terkekeh di tengah pegal pinggangnya. Hanum lantas mengambil lap kering kecil dan menepuk-nepuk pelan pelipis ibunya. "Hanum usap keringatnya ya, Bu."

"Terima kasih ya, Anak Pintar," sahut Hening lembut.

Malam harinya, Hening melakukan posisi sujud knee-chest sendirian di kamar. Ia menempelkan senter kecil ke perut bawahnya, menahan pegal yang menjalar hingga ke belikat demi memancing gerak sang buah hati. Rindang baru pulang lagi di akhir bulan. Melihat istrinya susah payah merangkak memeras kain pel, ia mendekat dan mengambil alih kain itu tanpa banyak kata.

Lihat selengkapnya