Pendar cahaya keemasan bercampur jingga hangat merekah perlahan di tengah keremangan jiwa. Cahaya keenam belas itu membawa Hening m melayang melintasi rentang masa, kembali pada sebuah hari perayaan yang riuh oleh gelak tawa dan aroma kelopak bunga.
Hari itu panggung kayu sederhana di halaman sekolah dipenuhi hiasan kain warna-warni. Acara wisuda TK Harum diselenggarakan bersamaan dengan perpisahan sekolah dasar tempat Hening mengajar, yang juga tempat Hanum menuntut ilmu.
"Bapak, lihat! Teteh Hanum cantiknya pakai baju tari!" ujar Harum riang seraya menunjuk ke atas panggung. Toga mungilnya masih bertengger lucu di kepala.
Rindang tersenyum lebar seraya membetulkan posisi gendongan bayi Ranum di dadanya. "Iya. Teteh Hanum menarinya luwes sekali. Nanti Harum mau ikut menari juga seperti Teteh Hanum, ya?"
Harum mengangguk antusias dengan mata berbinar-binar. "Mau, Pak! Nanti Harum mau pakai baju tari yang banyak rumbainya juga!"
Hening yang duduk di samping Rindang menepuk pelan paha suaminya sambil terkekeh geli mendengar celoteh putri keduanya.
Seusai seluruh rangkaian acara perpisahan yang meriah itu, Hening memboyong keluarga kecilnya menuju sudut aula sekolah. Di sana, sebuah kain latar bergambar hiasan wisuda disiapkan oleh fotografer sewaan sekolah untuk melayani foto kenang-kenangan para siswa dan guru.
Suara letupan halus disusul pendar cahaya menyilaukan dari lampu kilat kamera menyentak pandangan ketika mereka sedang mengantre foto. Posisi foto mereka; Harum berdiri membanggakan toga mungilnya usai wisuda TK. Rindang berdiri tegap di belakang, Hening memangku bayi Ranum, sementara Harum dan Hanum berdiri di depan dengan tersenyum lebar.
"Satu... dua... tiga!" seru sang fotografer memberi aba-aba dari balik kameranya. Dentupan lampu kilat kembali terdengar, menyebarkan sinar putih yang sangat terang. Itu adalah kali pertama mereka foto keluarga berlima dan langsung cetak untuk dipajang di rumah.
Sesampainya di rumah, seusai melepaskan pakaian dan membersihkan diri, Hening melangkah ke dapur dan membuka lemari penyimpanan. Di sana tergeletak dus besar berisi satu set lengkap alat pembuat kue, mulai dari pengocok adonan, cetakan loyang, hingga alat panggang kompor yang masih terbungkus plastik bersih. Hening tersenyum canggung menyimak barang-barang itu. Minggu lalu, seorang tenaga pemasar datang menemuinya di ruang guru sekolah. Merasa tidak enak hati untuk menolak bujukan sang penjual yang terus merayu, Hening akhirnya merogoh dompet dan membeli satu set lengkap alat panggang tersebut, walau ia sadar betul tak pandai membuat kue.
Hening menoleh ke arah pintu dapur, memanggil putri sulungnya. "Teteh Hanum, sini sebentar, Nak. Mau coba bikin kue bolu sama Ibu?"
Hanum yang sedang melepas kaus kakinya langsung berlari menghampiri dapur dengan mata berbinar-binar. "Wah, mau, Bu! Ibu bisa bikin kue? Kok tiba-tiba ada cetakan sama alat panggang bagus begitu?"
"Ada deh," sahut Hening terkekeh, sengaja merahasiakan alasan konyol di balik pembelian satu set alat panggangan itu dari sales yang datang ke sekolahnya. "Tapi, Ibu cuma punya tepung, telur, dan gula. Ibu lupa beli perisa vanili atau cokelatnya."