Upacara Pemakaman Kenangan

Syifa Fathonah
Chapter #14

Lima Bulan di Kamar Pengungsian

Pendar cahaya merah keruh berpadu abu-abu mekar perlahan di tengah keremangan jiwa. Cahaya kedelapan belas itu membawa ingatan Hening tua melayang, hinggap pada sebuah pagi yang mendadak berubah menjadi kepanikan hebat.

Pagi itu, suasana rumah kecil mereka riuh oleh derap langkah tergesa-gesa. Pukul enam lewat sedikit, Hening sibuk mengikat tali sepatu Harum, sementara Hanum menggeledah isi lemari dengan raut wajah panik.

"Ibu! Kaus kaki Hanum yang ada gambar kucingnya hilang! Cuma ada sebelah di laci!" seru Hanum seraya mengacak-acak tumpukan pakaian.

Hening menoleh cepat, napasnya sedikit terengah. "Teteh, coba cari di keranjang jemuran bersih! Cepat, Nak, nanti kalian terlambat masuk sekolah!"

"Tempat minum Harum yang warna hijau mana, Bu?" timpal Harum seraya menyampirkan tas punggungnya.

"Sudah Ibu masukkan ke kantong samping tasmu, Sayang," sahut Hening seraya mengusap peluh di dahinya.

Di tengah keriuhan pagi itu, dering telepon rumah mendadak berdering nyaring. Hening bergegas mengusap tangannya pada celemek lalu mengangkat gagang telepon.

"Halo, betul ini dengan keluarga Pak Rindang?" suara asing di ujung telepon terdengar tergesa-gesa.

"Iya, betul. Saya istrinya. Ada apa ya, Pak?" tanya Hening, mendadak firasatnya terasa tidak enak.

"Ibu Hening, Pak Rindang mengalami kecelakaan di Serang. Kaki dan tangannya terluka parah. Sekarang ada di rumah sakit."

Gagang telepon di genggaman Hening terasa begitu berat. Dadanya serasa dihantam batu besar. Tanpa membuang waktu, Hening lari keluar rumah dan memanggil Mang Dudung, tukang ojek tetangga yang kebetulan sedang memanaskan motornya di seberang jalan.

"Mang Dudung, tolong antarkan Hanum dan Harum ke sekolah ya. Saya ada urusan mendesak harus ke Serang sekarang," ucap Hening terbata-bata seraya merogoh dompet untuk menyerahkan uang ongkos.

Lihat selengkapnya