Upacara Pemakaman Kenangan

Syifa Fathonah
Chapter #15

Dua Piala dan Komidi Putar

Pendar cahaya keemasan hangat beradu ungu keperakan mekar perlahan di tengah keremangan jiwa. Cahaya kedua puluh itu membimbing ingatan Hening tua melayang menuju sebuah masa ketika satu badai akhirnya berlalu.

Setelah lima bulan yang menguras peluh dan air mata di Baros, Rindang akhirnya dinyatakan sembuh total. Tulang kaki dan tangannya telah menyambung kembali, meski langkahnya masih sedikit lambat. Namun, tatkala Rindang bermaksud memanaskan mesin sepeda motornya di halaman rumah, Hening langsung berdiri meniti pintu dengan raut wajah tegas.

"Motor itu dijual saja ya, Mas," ujar Hening. "Ibu masih trauma luar biasa. Pokoknya untuk beberapa waktu ke depan, Mas tidak boleh naik motor dulu."

Rindang menatap sepeda motor kesayangannya sejenak. Lelaki yang sejak kecelakaan menjadi jauh lebih banyak membisu itu hanya menghela napas pendek, lalu mengangguk pelan. "Ya sudah, terserah Ibu saja," sahutnya seraya menyerahkan kunci motornya. Kehilangan sepeda motor tak lagi berarti apa-apa dibanding rasa tenang istrinya.

Hari-hari berganti bulan dan tahun hingga tibalah hari perpisahan sekolah dasar tempat Hening mengajar. Hari itu menjadi momen istimewa karena perpisahan kelas enam yang ditempuh Hanum digelar bersamaan dengan pembagian rapot akhir tahun kelas tiga milik Harum.

Aula sekolah bergemuruh oleh riuh tepuk tangan orang tua murid yang memenuhi kursi lipat. Udara pagi terasa hangat, dipenuhi kebanggaan dan debaran dada para wali murid. Hening dan Rindang duduk berdampingan di deretan depan, memangku Ranum yang sibuk memainkan jemarinya.

Keriuhan suara tepuk tangan dan gema pengeras suara di aula sekolah dasar. Kepala sekolah terdengar mengumumkan hasil kelulusan dan pembagian rapot akhir tahun di atas panggung."Peraih peringkat pertama kelas enam, Hanum Pertiwi! Dan peraih peringkat pertama kelas tiga, Harum Sundari!" suara pengeras suara menggema keras.

Hening menangkupkan kedua tangan di depan mulutnya. Air mata haru membendung pelupuk matanya. Ia menyambut kedua putrinya yang berlari turun dari panggung, lalu berlutut memeluk mereka erat-erat.

"Ibu, lihat! Hanum dapat piala lagi!" seru Hanum dengan napas terengah namun matanya berbinar riang, menyodorkan rapot berpita emas dan piala kayu di tangannya.

"Harum juga juara satu, Bu! Harum pintar kan kayak Teteh?" celetuk Harum tak mau kalah, memamerkan pialanya yang hampir sama besar seraya mengalungkan tangan mungilnya ke leher Hening.

Hening menciumi pipi kedua putrinya bergantian. "Pintar sekali. Terima kasih ya, Nak. Kalian berdua anak-anak Ibu yang paling hebat."

Ketika suara dengungan mengalun memburu waktu, jemari keriputnya bergerak penuh kehati-hatian meraba simpanan beludru. Ia melepaskan sumbat botol kaca kedua puluh, membiarkan aliran pendar keemasan beradu ungu keperakan menyuling masuk hingga pepat ke leher bejana. Kemudian, kilau pendar berwarna magenta berpadu warna kuning keemasan memercik lembut, mengalirkan hawa hangat yang membawanya kembali ke sebuah sore di tengah deru musik sintetis dan pendar lampu arena permainan.

Hawa sejuk pendingin udara beraroma manis karamel dari kedai berondong jagung langsung menyergap indra penciuman. Di bawah pijaran pendar neon warna-warni yang memantul mengilat di atas lantai keramik, riuh derai tawa pengunjung beradu dengan dentang nada tinggi dari sudut-sudut mesin. Hari itu, untuk kali pertama, Hening memboyong anak-anaknya mengecap kesenangan di pusat perbelanjaan.

Rindang berjalan beberapa langkah di samping Hening dengan wajah kaku. Lelaki itu menggendong Ranum di bahunya tanpa banyak bicara, sekadar memegangi dua kaki mungil balita itu agar tidak jatuh. Ranum menepuk-nepuk kepala bapaknya, tetapi Rindang hanya diam menatap lurus ke depan, tenggelam dalam dunianya sendiri.

Lihat selengkapnya