Upacara Pemakaman Kenangan

Syifa Fathonah
Chapter #16

Tatap Benci untuk Bapak

Gelombang pendar berwarna kelabu pekat berkerlip merah saga membuncah dari celah penyumbat kaca. Kenangan kedua puluh dua itu bergetar hebat, membawa sukma Hening tua kembali pada suatu malam ketika kehamilannya yang keempat membawa riak baru di rumah mereka.

Saat itu, perut Hening baru saja diisi janin muda. Tubuhnya amat ringkih, digerus mual hebat dan rasa lemas khas kehamilan muda yang datang tak mengenal waktu. Di tengah kondisi fisik Hening yang rentan mengurus tiga anak—Hanum, Harum, dan Ranum—kehadiran calon buah hati keempat yang seharusnya membawa kehangatan, justru mempertebal ketegangan dan beban hidup di antara ia dan Rindang.

Malam itu, di saat Hening menahan mual yang membuat dadanya sesak, ruang tengah rumah mereka mendadak bising oleh derak barang-barang yang dibanting. Rindang kelimpangan kehilangan telepon genggamnya. Bukannya mencari dengan tenang, lelaki itu justru mengobrak-abrik isi lemari, melempar tumpukan kertas ke lantai, dan melayangkan tuduhan-tuduhan kasar pada Hening. Ponsel yang hilang itu seolah hanyalah alasan baginya untuk menumpahkan amarah yang bertumpuk.

Hanum yang tak tega melihat ibunya dibentak-bentak bergegas memastikan Harum dan Ranum masuk ke kamar, lalu mengunci pintu rapat-rapat dari dalam. Setelah adik-adiknya aman, Hanum melangkah mantap menuju ruang tengah.

"Bisa enggak kalau cari barang tuh enggak usah berantakan dan marah-marah kayak gini? Punya Bapak bisanya marah-marah doang!" tegur Hanum tegas, suaranya nyaring memotong keriuhan.

Pergerakan Rindang terhenti seketika. Ia memutar tubuhnya, menatap putri sulungnya dengan sorot mata dingin yang menghunus tajam. Belum sempat Rindang membentak, Hanum sudah lebih dulu memotong.

"Apa? Mau bentak? Bentak aja! Saya sama sekali enggak takut!" seru Hanum dengan dada naik-turun. "Bapak kira enggak capek apa kita dengar Bapak marah-marah bentak-bentak Ibu kayak gini? Mikir dong! Sudah punya anak tiga tuh otaknya dipakai!"

"Berisik! HP Bapak hilang! Ib—" Rindang mencoba memotong dengan suara meninggi.

"Bapak duluan yang berisik!" timpal Hanum tanpa rasa gentar sedikit pun. "Bapak mau nuduh Ibu lagi? Aneh. Yang cari uang Ibu, ngapain juga Ibu ambil-ambil HP Bapak!"

Hening yang lemas buru-buru mendekat, menarik lengan Hanum untuk meredam amarah suaminya yang kian membara. Namun, Hanum tidak berhenti.

"Ingat enggak kalau Ibu lagi hamil muda? Bukannya disayang, malah dibentak tiap hari," cerca Hanum lagi, suaranya bergetar menahan luapan emosi. "Bapak tuh memang paling jago pas bikin anak, tapi pas anaknya sudah kebuat malah lepas tangan. Nafkah materi enggak bisa ngasih, kasih sayang apalagi! Gayanya aja gede, nambah anak mulu!"

Tangan Rindang bergerak cepat hendak meraih gelas kaca di atas meja. Melihat bahaya itu, Hening spontan menyeret tubuh Hanum masuk ke dalam kamar mereka, lalu membanting dan memutar kunci pintu dari dalam.

Tendangan keras mendarat di daun pintu kayu dari luar, disusul teriak gema Rindang yang membahana. "Jadi anak kok berani banget sama orang tua!"

"Ya beranilah kalau orang tuanya modelan enggak bertanggung jawab kayak Bapak!" balas Hanum tak kalah lantang dari balik pintu.

Lihat selengkapnya