Pendar biru keperakan berbaur dengan hangatnya warna amber redup menyeruak, membawa sukmanya melayang menuju sebuah masa ketika anak sulungnya memilih membentangkan jarak sejauh pulau demi menghirup udara kebebasan.
Malam sebelum kepindahan itu, suasana kamar Hanum terasa begitu hidup di tengah lengang rumah. Hening berdiri bersandar di pintu kamar, memperhatikan ketiga anak perempuannya yang sedang berkumpul melingkar di atas kasur. Hanum dan Harum sibuk meratakan masker wajah kental berwarna hijau tua, sementara Ranum bertekuk lutut di lantai seraya menekan krayon warna-warni di atas lembaran kertas putih.
"Harum! Jangan ketawa kencang-kencang, nanti maskernya retak semua!" seru Hanum seraya mencoretkan sedikit sisa masker ke ujung hidung adiknya.
"Ih, Teteh! Jahat banget hidung Harum jadi hijau!" pekik Harum terbahak-bahak, disusul tawa renyah Ranum yang menghentikan goresan krayonnya.
Ranum bangkit mendekati kasur, memboyong lembaran kertas gambar yang sudah penuh coretan polos. "Teteh, lihat! Adik bikin gambar khusus buat Teteh bawa besok!"
Hanum menerima kertas itu dengan pandangan lembut. Di atas kertas tipis itu, terlukis tiga figur perempuan bergaun cerah dengan tangan saling bergandengan di bawah ukiran matahari kuning. "Ini Teteh Hanum, ini Teteh Harum, terus yang paling kecil ini Adik," ujar Ranum.
"Bagus sekali, Adik manis. Teteh simpan ya, nanti Teteh tempel di dinding kamar kos Teteh," sahut Hanum seraya mengecup hangat dahi Ranum.
"Teteh jangan ditinggal juga ya tempat pensil kain warna merah muda itu!" celoteh Harum lagi seraya menunjuk sudut meja belajar yang sudah bersih.
"Kan Teteh cuma merantau kuliah, Harum. Tempat pensilnya tetap di sini buat Adik sekolah. Dipakai baik-baik ya," janji Hanum.
Hening memandangi ketiganya dari ambang pintu dengan dada yang membebat nyeri. Di balik tawa anak-anaknya malam itu, Hening tahu betul alasan utama di balik keputusan keras Hanum memilih kuliah di Lampung. Hanum sudah teramat muak. Gadis itu lelah terus-terusan dipaksa mengerti sikap Rindang yang keras, kasar, dan tak pernah bertanggung jawab di matanya. Melarikan diri menyeberangi Selat Sunda menuju Sumatra adalah satu-satunya jalan paling masuk akal bagi Hanum untuk melepaskan diri dari bayang-bayang bapaknya.
Ketika anak-anak mulai tertidur lelap, Hening berjalan perlahan ke ruang tengah. Di dekat pintu depan, tumpukan kardus cokelat yang terikat kencang dengan tali rafia dan dua tas kain besar sudah berjejer rapi.
Hening berlutut di samping tumpukan barang itu. Tangannya yang gemetar mengusap permukaan kardus yang dingin. Dalam remang lampu malam, air mata Hening menetes satu per satu tanpa suara. Anak gadisnya yang dulu ia timang kini benar-benar siap pergi menyeberangi lautan. Sementara itu, di dalam kamar utama, Rindang tertidur lelap tanpa memedulikan sedikit pun kepindahan putri sulungnya.
Pagi harinya, deru mesin mobil melintas dan berhenti tepat di depan pagar. Keluarga Derana, teman sebangku Hanum sewaktu SMA, tiba dengan ramah. Karena keluarga Hening tidak memiliki kendaraan roda empat, orang tua Derana yang berhati emas sengaja menawarkan tumpangan untuk mengangkut barang-barang Hanum sekaligus mengantar mereka.
"Bu Hening, ayo barang-barang Hanum dimasukkan ke bagasi belakang saja, masih muat kok," sapa ibu Derana hangat dari balik jendela mobil.
"Terima kasih banyak ya, Bu. Jadi merepotkan begini," sahut Hening seraya tersenyum canggung.
Hening dan Ranum ikut serta dalam perjalanan itu. Sebelum berangkat, Hanum hanya menyalami tangan Rindang singkat tanpa ada percakapan hangat. Rindang sekadar mengangguk kaku lalu kembali masuk ke dalam rumah. Ada helaan napas lega yang lolos dari bibir Hanum saat pintu mobil ditutup dan roda kendaraan mulai bergulir meninggalkan pekarangan.