Upacara Pemakaman Kenangan

Syifa Fathonah
Chapter #18

Racun Rumah dan Jiwa yang Patah

Pendar warna ungu keabu-abuan berbaur dengan pendar kusam yang redup merekah, mengalirkan hawa dingin yang membawa sukmanya kembali ke masa ketika ujian hidup tak pernah benar-benar berhenti menghampiri rumah mereka. Masa-masa kelam bersama Hanum perlahan berlalu. Putri sulungnya itu telah sembuh total dan kembali menyeberangi laut menuju Lampung untuk melanjutkan kuliahnya. Namun, ketenangan Hening tak bertahan lama. Beban duka itu mendadak berpindah menimpa putri keduanya, Harum.

Sejak diterima kuliah dan mulai merantau di Serang, perubahan drastis terjadi pada diri Harum. Gadis riang itu mendadak jatuh sakit dengan gejala yang teramat aneh. Harum menghabiskan waktunya hanya untuk tidur, bahkan hampir dua puluh empat jam sehari tanpa memedulikan dunia luar.

Setiap bulan, Hening rela menempuh perjalanan dari Cilegon ke Serang untuk menginap di kosan putri keduanya. Setiap kali menjejakkan kaki di dalam kamar kos Harum, dada Hening selalu sesak melihat tumpukan baju kotor, piring berdebu, dan sampah kertas yang berserakan di lantai. Hening akan menyingsingkan lengan baju, membereskan seluruh isi ruangan hingga bersih, lalu bersusah payah membangunkan Harum yang terus terpejam.

"Harum, bangun. Ayo siap-siap, nanti kamu terlambat kuliah," bisik Hening lembut seraya mengguncang pelan bahu putrinya.

Harum yang berada di bawah himpitan rasa kantuk berat mendadak membuka mata. Raut wajahnya berubah keruh dan penuh amarah. Ia menepis tangan ibunya secara kasar.

"Bisa enggak sih Ibu enggak usah ngatur-ngatur? Harum capek! Ini semua salah Ibu! Ibu yang bikin Harum jadi kayak begini! Ibu jahat sama Harum!" bentak Harum dengan suara melengking.

Hening tertegun di tepi kasur. Kalimat menusuk itu menghantam dadanya begitu keras, tetapi ia memilih menangis dalam diam sambil menahan perih. Ia paham betul ada yang tidak beres dengan kondisi jiwa dan fisik anak gadisnya. Sikap kasar Harum tak pernah bertahan lama. Setiap kali terbangun di keesokan harinya, Harum mendadak terduduk di atas kasur dengan air mata yang mengucur deras. Ia merangkul pinggang Hening erat-erat seraya terisak parah.

"Ibu... maafin Harum, Bu... Harum enggak tahu kenapa kemarin ngomong kasar begitu sama Ibu," rintih Harum, suaranya bergetar hebat. "Tiap habis membentak Ibu, rasanya dada Harum sakit banget. Hati Harum kayak jatuh ke dasar yang dalam, Bu...."

Hening mengelus lembut rambut Harum, mengusap air mata di pipi putrinya tanpa ada rasa dendam sedikit pun. Demi menyembuhkan Harum, Hening menempuh berbagai cara. Ia membawa Harum berobat secara spiritual kepada beberapa ustadz.

"Ada makhluk halus yang menempel dan mencoba menguasai pikiran anak Ibu. Ini yang membuat emosinya sering tidak terkendali," ujar ustadz tersebut usai membacakan doa-doa di atas segelas air putih untuk diminum oleh Harum.

Tak berhenti di situ, Hening juga membawa Harum berkonsultasi ke psikolog untuk mendapat penanganan medis secara kejiwaan. Di dalam ruang terapi yang tenang, psikolog menyampaikan hasil pemeriksaannya pada Hening. "Harum mengalami gangguan psikologis yang cukup berat, Bu. Ia memiliki tingkat halusinasi yang tinggi, sehingga sering kali ia tidak bisa membedakan antara kenyataan dan bayangan di kepalanya," terang psikolog tersebut.

Kondisi Harum yang kian memburuk membuatnya tidak sanggup lagi berkuliah selama beberapa bulan. Hening akhirnya memboyong Harum pulang ke Cilegon. Lembaran hasil studi semester itu membuat dada Hening makin hancur; nilai Harum didominasi huruf D dan E karena ia sama sekali tidak pernah mengikuti ujian. Padahal, sejak masa sekolah dasar hingga lulus SMA, Harum adalah anak berprestasi yang selalu menyabet peringkat satu.

Di rumah Cilegon pun, Harum tak berkutik dan masih menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk tidur. Melihat keadaan itu, Hening membawa Harum ke rumah Nenek Kuntum. Selama sebulan tinggal di sana, suasana berbeda terpancar. Di rumah Nenek Kuntum, Harum perlahan kembali menjadi pribadi yang ceria seperti biasa. Ia mengobrol dan tersenyum lepas bersama neneknya. Namun, keceriaan itu langsung sirna tiap kali Hening datang menjenguk ke rumah Nenek Kuntum. Harum mendadak menarik diri, membisu, dan menghindar dari ibunya.

Kebingungan dan merasa terluka, Hening kembali mendatangi dokter psikologi yang menangani Harum. "Dokter, kenapa Harum selalu diam dan berubah dingin tiap kali saya datang menjenguk?" tanya Hening.

"Harum tidak membenci Ibu," jelas dokter psikologi itu menenangkan. "Justru sebaliknya, Harum menanggung perasaan bersalah yang sangat besar. Dia sangat takut ucapan kasarnya saat emosi kambuh akan menyakiti hati Ibu lagi. Karena tidak ingin melukai perasaan Ibunya, Harum memilih untuk membisu."

Lihat selengkapnya