Upacara Pemakaman Kenangan

Syifa Fathonah
Chapter #19

Mekar Setelah Badai

Cahaya kenangan ke-26 terasa hangat di jemari Hening tua, seolah menyimpan bongkahan sinar matahari pagi yang membakar habis sisa-sisa dingin kegelapan sebelumnya. Hening melintasi ambang waktu, mendarat tepat pada lembaran hari ketika kebanggaan mulai tumbuh menggantikan kepedihan. Masa-masa pahit terbayar sudah. Meskipun kelulusannya sempat tertunda hingga empat setengah tahun akibat penyakit TBC dan tukak lambung yang hampir merenggut nyawanya, Hanum akhirnya berhasil mengantongi gelar sarjana. Kepulangannya ke Cilegon usai lulus sidang akhir hanya berlangsung singkat. Baru tiga minggu ia beristirahat di rumah, kabar gembira menghampiri. Hanum diterima bekerja di sebuah perusahaan di Bekasi dan harus kembali mengemas pakaiannya untuk merantau.

Tiga bulan setelah Hanum resmi menjadi pekerja di Bekasi, momen upacara wisuda yang sempat tertunda akhirnya diselenggarakan di Lampung. Dari Bekasi, Hanum sudah merancang segalanya dengan matang melalui sambungan telepon. Ia meminta Hening membongkar lemari untuk membawa serta toga tua milik ibunya sewaktu lulus kuliah dulu. Tidak hanya itu, Hanum membelikan seluruh kebaya wisuda dengan uang hasil keringatnya sendiri. Ia memesan kebaya berwarna burgundy yang merupakan warna favorit Hening, kemeja burgundy yang senada untuk Rindang, serta kebaya berwarna mauve yang anggun untuk dirinya sendiri.

Di penginapan di Lampung sejak subuh, suasana terasa begitu semarak. Hanum sengaja menyewa dua perias wajah khusus agar ia dan ibunya didandani secara berdampingan. Saat juru rias merapikan sanggul Hening, Hanum menyerahkan sebuah selempang merah bertuliskan nama Hening yang sengaja dipesan khusus.

"Ibu pakai ini ya," ujar Hanum lembut seraya mengalungkan selempang merah itu dan meletakkan toga tua Hening di pangkuan ibunya.

Hening meraba kain toga di tangannya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kenapa Ibu harus pakai toga dan didandani secantik ini, Teh? Kan Teteh yang wisuda."

Hanum tersenyum lebar seraya mengelus bahu ibunya. "Teteh tahu dulu waktu Ibu lulus kuliah, Ibu nggak punya foto wisuda yang bagus sama sekali. Jadi hari ini, Ibu harus tampil paling cantik juga, pakai toga Ibu lagi, dan foto yang bagus."

Seusai prosesi wisuda, Hanum juga memanggil fotografer profesional yang sudah ia sewa. Di pelataran kampus, selain mengabadikan momen kebersamaan mereka, Hanum secara khusus meminta fotografer mengambil potret tunggal Hening yang mengenakan toga lengkap dengan selempang merahnya. Di balik lensa kamera, air mata Hening menetes haru. Luka lama saat masa mudanya yang serba terbatas seolah dibasuh tuntas oleh putri sulungnya.

Sejak meraih penghasilan sendiri di Bekasi, perhatian Hanum pada Hening melimpah tanpa henti. Setiap ada kesempatan libur kerja, ia rela menempuh perjalanan jauh pulang ke Cilegon hanya untuk memanjakan ibunya.

Suatu sore di Cilegon, kemalangan kecil terjadi saat Hening sedang membersihkan kacamata tuanya. Bingkai plastik yang sudah lapuk itu mendadak patah menjadi dua di bagian tengah. Hening tertegun menatap gagang kacamata yang terlepas, sementara Ranum yang melihat kejadian itu dari atas sofa tertawa terpingkal-pingkal.

"Ibu lucu banget, kacamatanya nempel di hidung separuh, gagangnya lepas!" seru Ranum terkekeh renyah.

Hening ikut tertawa kecil, tetapi ia sedikit cemas karena kacamata itu adalah tumpuan utamanya untuk membaca dan bekerja. Malam harinya, saat telepon dari Bekasi masuk, Hening menceritakan kejadian itu kepada Hanum.

"Teh, kacamata Ibu tadi patah dua pas dibersihkan. Ranum sampai tertawa terpingkal-pingkal melihatnya," tutur Hening.

Di ujung saluran, nada suara Hanum langsung berubah serius namun hangat. "Besok pas Teteh libur dan pulang ke Cilegon, kita langsung ke optik ya, Bu."

Sabtu sore saat pulang ke rumah, Hanum benar-benar menggandeng Hening masuk ke sebuah optik besar di pusat kota. Tanpa ragu, Hanum meminta petugas toko memberikan produk dengan kualitas tertinggi.

Lihat selengkapnya