Cahaya merah muda keemasan merekah lembut. Udara di sekelilingnya mendadak pekat oleh keharuman ronce melati segar yang menggantung di sudut meja, berbaur aroma teh manis panas dan gurihnya kue-kue penganan tradisional yang tersaji rapi. Hening mendapati dirinya duduk tegak di atas sofa ruang tamu yang dihiasi tirai kain berenda putih, melambai pelan disapu angin sore yang sejuk. Di sampingnya, Rindang duduk gagah mengenakan kemeja batik terbaiknya.
Di sisi lain meja kayu ukir yang tebal, Hanum tampak begitu anggun dalam balutan kebaya brokat berwarna krem dengan sulaman benang emas yang halus. Harum dan Ranum duduk mengapit sang kakak. Ranum beberapa kali membisikkan godaan kecil yang membuat pipi Hanum makin merona merah, sementara Harum terus menggenggam jemari tangan Hanum yang terasa dingin karena gugup.
Di seberang meja kayu, keluarga besar calon mempelai pria duduk berderet penuh ketakziman. Ayah Rimbun membetulkan posisi duduknya lalu berdehem pelan, memecah keheningan dengan wibawa yang ramah.
"Bismillah. Pak Rindang dan Ibu Hening, kedatangan kami sekeluarga sore ini membawa hajat yang sangat mulia," tutur Ayah Rimbun dengan suara mantap dan penuh kesungguhan.
Bunda Rimbun menyambung dengan senyum manis yang memancarkan kehangatan seorang ibu, menatap Hanum penuh kasih sayang. "Kami melihat Hanum ini anak yang sangat santun, berbakti, dan dewasa. Rimbun sudah banyak bercerita tentang kebaikan Hanum."
Abang Rimbun yang duduk di samping adiknya ikut menyela santai untuk mencairkan suasana. "Iya, Ibu. Rimbun kalau di rumah ceritanya cuma tentang Hanum terus sampai kita sekeluarga hafal."
Gemerincing halus cangkir porselen dan tawa renyah pecah menyelimuti ruangan. Rimbun menunduk malu mendengar godaan kakaknya, lalu merapikan posisi duduknya. Pria bersahaja berwajah teduh itu menatap Rindang dan Hening dengan pandangan yang jernih.
"Bapak, Ibu, kedatangan kami keluarga besar ke sini adalah untuk menyampaikan niat baik saya," ucap Rimbun. "Saya ingin meminang Hanum untuk menjadi istri dan pendamping hidup saya. Saya berjanji akan menjaga, menghormati, dan membahagiakannya sepenuh hati."
Di tengah keheningan yang menggantung penuh rasa haru usai ucapan pinangan itu, benak Hening mendadak ditarik pada ingatan masa lalu yang dulu sempat mengiris hatinya. Ia teringat jelas malam tatkala trauma masa lalu masih mencengkeram jiwa anak sulungnya.
Kala itu Hanum merintih ragu di hadapan Hening dengan mata berkaca-kaca. "Ibu, sepertinya Hanum memilih untuk nggak akan menikah. Hanum takut bernasib seperti Ibu. Hanum mggak mau punya suami seperti Bapak. Lebih baik sendiri daripada seumur hidup harus mengerti laki-laki yang cuma memikirkan dirinya sendiri."
Hening mengingat bagaimana ia merangkul jemari dingin anak gadisnya di tengah rasa sesak di dadanya. "Jangan berpikir seperti itu, Teh. Harus berpikir yang positif supaya dipertemukan dengan jodoh yang baik. Nggak semua laki-laki seperti Bapak, Teh."
Kini, seluruh bayang-bayang ketakutan itu runtuh tak berbekas. Hanum menunduk malu dengan pipi merona merah bagai kejatuhan kelopak mawar. Jemarinya yang gemetar halus memilin ujung selendang sutranya sebentar untuk menata gejolak bahagia yang membuncah di dada. Ia lalu mendongak, menatap mata Hening dengan binaran telaga bening.