Cahaya hangat berwarna keemasan merekah, mengalirkan aroma serai hangat beradu renyah adonan pisang goreng yang baru diangkat dari wajan mendadak menyeruak di udara, membimbing sukma Hening kembali ke sebuah sore yang penuh tawa. Ruang tamu riuh rendah oleh suara radio yang memutarkan lagu ceria. Rimbun melangkah dari arah dapur dengan hati-hati, membawa nampan berisi cangkir jahe hangat dan sepiring pisang goreng kipas yang masih berasap.
"Nah, pisang goreng hangat pesanan Kanjeng Ratu sudah mendarat!" seru Rimbun dengan gaya konyol sambil membungkuk layaknya pelayan kerajaan. "Masih renyah, manis, dan siap dilahap."
Hanum terkekeh geli melihat tingkah suaminya, matanya berbinar menatap piring pisang goreng itu. "Mas Rimbun ini ada-ada saja! Tapi terima kasih ya, Mas."
Rimbun tersenyum lebar, berlutut di samping sofa sebentar lalu menepuk pelan perut Hanum. "Sama-sama, Sayang. Bapak bayinya mau bantu Bapak Rindang membetulkan garasi di luar dulu ya."
Usai Rimbun melangkah ke halaman belakang sambil bersiul riang, suasana di ruang tamu berubah santai dan penuh kehangatan. Hening duduk di atas sofa, sementara Hanum berbaring di sampingnya dengan kepala bersandar nyaman di pangkuan Hening. Perut Hanum tampak membuncit indah di balik gaun terusan yang longgar.
Jemari Hening tak berhenti mengusap lembut rambut putri sulungnya, menatanya dengan penuh kasih. Hanum mengusap perutnya yang kian membesar, lalu mendongak manja. "Ibu, mualnya masih sering terasa. Dulu waktu mengandung Hanum, Ibu suka mual juga ya?"
Hening tersenyum, tangannya tak berhenti mengusap lembut rambut putri sulungnya. "Suka sekali, Teh," jawab Hening terkekeh pelan mengingat masa lalunya. "Dulu waktu mengandung kamu, Ibu malah pernah mengidam bau semen basah gara-gara tetangga sedang merenovasi rumah. Bapakmu sampai pusing melihat Ibu berdiri di depan rumah tetangga cuma buat menghirup bau debu semen!"
Hanum tertawa renyah mendengar cerita kocak ibunya. "Aduh, Ibu! Kalau Hanum sih anehnya cuma suka menyuruh Mas Rimbun mengelus perut sambil bernyanyi lagu anak-anak jam satu malam. Mas Rimbun sampai mengantuk-mengantuk menyanyikan lagu Balonku Ada Lima!"
Tawa mereka makin pecah tatkala Ranum dan Harum muncul dari lorong kamar dengan gaya heboh. Ranum membawa piring berisi potongan buah mangga mengkal, sementara Harum membawa kipas lipat.
"Aha! Pantas saja Mas Rimbun tadi mengeluh suaranya serak!" celetuk Ranum riang seraya berlutut di karpet dan menyodorkan sepotong mangga ke arah Hanum. "Ternyata tiap malam latihan konser demi calon bayi! Teteh Hanum benar-benar memanfaatkan momen hamil ya!"